Pendakian Gunung Ciremai via Linggasana Baru (Tidak lewat Linggarjati, jalurnya masih asri alami bikin gempor)

Mt Linggasana, Oktober  2017

Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3078 Mdpl.
Untuk melakukan pendakian di Gunung Ciremai bisa melalui jalur Palutungan, Apuy, Linggarjati, Linggasa Lama dan Linggasana Baru.

Saya mencoba jalur Linggasana baru, karena jalur lainnya sudah pernah saya coba.

Pada jalur Linggasana (lama) akan menemui pertigaan di Pos 6, kearah kanan menuju ke jalur Linggarjati yang tembus antara Bapa Tere dan Batu Lingga, dan puncaknya di Linggarjati.

Namun beberapa waktu lalu dibuka jalur baru di Linggasana, dari Pos 6 kearah kiri tanpa harus melewati jalur Linggarjati, dan puncaknya berbeda dengan jalur Linggarjati.


Puncak Gunung Ciremai via Linggasana Baru





Basecamp Linggasana berada di Desa Linggasana, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Akses kendaraan menuju Desa Linggasana tidak sulit.
Jika dari Jakarta menggunakan bus, bisa dari Terminal Kampung Rambutan, Pulo gadung, Lebakbulus, Pulogebang, Kalideres dsb, menggunakan bus Luragung Jaya jurusan Kuningan, atau bisa menggunakan bus lainnya yang menuju ke Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dengan biaya kurang lebih 80rb/orang.
Berhenti lah di Tugu Pertigaan Linggarjati yang terletak di Jalan Raya Cilimus.
Dari pertigaan bisa menggunakan kendaraan umum atau ojek menuju Basecamp di Desa Linggasana.

Waktu tempuh dari Jakarta ke pertigaan  Linggarjati sekitar 5-6 jam lewat Pantura.





Awalnya saya, suami dan Agus berencana pergi bertiga untuk survei dan mencoba jalur ini.
Beberapa hari setelahnya, teman kami Wirman, Tyo dan Ato pun berniat untuk ikut.

Berenam pergi bersama-sama menggunakan motor dari Cirebon menuju Linggasana pagi hari.
Sesampainya di Basecamp langsung disuguhi teh manis hangat gratis oleh Pak Yatna salah satu pengurus disana...nikmatnyooooooo.

Selain Pa Yatna kami juga berkenalan dengan (sebut saja) Kakek...seperti itulah namanya ketika saya berkenalan dan saya tanya nama bapak siapa ?
Tapi jangan berpikiran dia benar kakek-kakek ya...karena umurnya masih sepantaran saya, suami dan Wirman.

Mereka sangat ramah, saking ramahnya jadilah jadwal pendakian melenceng karena keasyikan ngobrol dan ketawa-ketawa.

Area basecamp sangat luas, disamping kiri tersedia tempat istirahat para pendaki, dan disamping kanan terdapat area parkir, Mushola dan kamar mandi, serta warung di bagian tengah.

Kami  terpesona melihat kamar mandinya, bersih dan eksklusif banget, tidak seperti di basecamp lainnya.


Warung dan tempat registrasi
(ngobrol dengan Pa Yatna & Kakek)
 

Area Basecamp


 Mushola


 Kamar Mandi


Simaksi jalur Linggasana Baru sama dengan jalur Ciremai lainnya yaitu Rp. 50.000,- /orang include teh manis hangat, makan dan sertifikat  dengan ketentuan menyerahkan fotocopy KTP salah satu dari rombongan.




Menurut Kakek perjalanan normal dari pos ke pos memakan waktu 1 jam.
Baiklah...mari kita yang lemah ini membuktikan apakah memang satu jam tiap pos, sejatinya jika orang lain bisa satu jam maka saya bisa satu setengah jam atau dua jam..kwkw.

Tak lupa kami pun sarapan dulu, nasi dan telur dadar di warung.
Dan ini lah awal bencana bagi saya, kebiasaan buruk sebelum pendakian jika sudah sarapan langsung mules.

Celakanya saya hanya sekedar mules tanpa ingin buang air besar, alhasil tersiksa rasanya menahan mules selama pendakian.

Rencana awal memulai pendakian Jam 08.00, meleset menjadi jam 09.20.

Pendakian dimulai, dengan berjalan santai sambil terus ngoceh becanda bak radio bodol...dalam hal ini ketua radio bodolnya adalah Wirman.

Awal pendakian memasuki jalan yang cukup lebar dan berbatu, panas matahari sudah mulai terasa namun tak berlangsung lama karena setelahnya memasuki kawasan pepohonan.

Argghhhhh...sebenarnya memasuki kawasan pepohonan ini tetap saja panas karena pengap, saya yang jarang sekali berkeringat namun ketika melewati jalur ini sungguh resah gelisah karena keringat mengucur tak henti-henti.
Dan...menahan mules tentunya.

Jalan menanjak sangat landai dan berbelok-belok serasa melewati jalan Cadas Pangeran di Sumedang (lebay).



Trek menuju Pos 1





Pos 1, Pambadakan

Jam 10.25 sampai di Pos  1.
Yeyyyy...55 menit sudah sampai.
Padahal kami berjalan sangat santai dan banyak istirahat, entah salah siapa jika kami bisa sampai tepat waktu bahkan lebih cepat 5 menit (cuma lima menit doank kok bangga).
Mungkin salah jam ? atau salah kaki ? atau tiba-tiba kami strong ? abaikan saja.

Sepanjang jalur via Linggasana baru ini tak perlu kuatir takut nyasar, karena sangat banyak petunjuk berupa pita plastik berwarna merah putih dan pohon di cat warna merah sepanjang jalur sehingga memudahkan pendaki menemukan jalan yang terbilang masih alami dengan pepohonan yang masih rapat.


Pos 1, Pambadakan



Di pos ini bertemu dengan rombongan dari Indramayu dan Bandung yg berjumlah 5 orang (dua laki-laki, dan tiga perempuan), kami menyebut mereka hijaber.
Sebetulnya saya bertemu mereka saat di basecamp, namun saya pergi duluan...ehhh kesusul lah yawww.

Pos 1 merupakan tempat yang asik untuk beristirahat, karena ada tempat berteduh dan tempat selfie, pemandangan kearah bawah pun terbuka terlihat jelas dan indah, namun karena tak ada pepohonan, terasa panas jika keluar dari tempat berteduh.

Kami istirahat 45 menit...merebahkan badan, minum dan ngoceh sana sini tentunya.

11.10 kami melanjutkan perjalanan.
Trek sepanjang jalan masih menanjak sangat landai.
Hal ini membuat saya bertanya-tanya penuh rasa curiga yang mendalam, saking dalamnya perut semakin mules dan kepala dilanda pusing.
Saya bertanya-tanya dalam hati, dari tadi sangat landai terus, pasti nanti treknya langsung kejam, tapi dimana trek kejam itu dimulai ?...hmmmm @#$%&@


Trek menuju Pos 2



Pos 2, Wirabuana

Jam 12.05 sampai di Pos 2 .
Yeyyyyy lagiiii...55 menit waktu perjalanan.
Kali ini tak usah dibahas salah siapa hingga perjalanan kami bisa sesuai estimasi, saya pusing dan mules..titik.

Pos ini lumayan luas, terdapat tempat duduk dari bambu, dan tempatnya lumayan nyaman dan sangat teduh.
Kami memutuskan untuk ngopi-ngopi, ngemil dan makan siang.
Di pos ini kami bertemu lagi dengan hijaber.

Pos 2, Wirabuana






20 meter dari Pos 2 terdapat mata air yang sudah disediakan menggunakan pipa.
Agus dan Tyo mengisi drigen yang kosong untuk perbekalan air kami di jalan.

Amazing...amazing..kenapa ? kenapa ? kenapa amazing ?
Air dari Pos 2 rasanya mantabbb, bersih dan suegerrrr bangeuudddd..mengalahkan rasa air mineral yang dibeli di mini market.




45 menit istirahat di Pos 2, lalu meneruskan perjalanan menuju Pos 3.
Eng ing eeenngggg...ternyata disinilah penyiksaannya, mari memulai dengan tanjakan demi tanjakan yang memilukan...hiks..hiks.

Jika diliat-liat tanjakannya sama semua, tidak ada variasi, begitu terus alias monoton dan jarang bonus, karena monoton inilah nafas semakin ngos-ngosan, langkah semakin melehoy...kezzaallll 👀.


Trek menuju Pos 3


 



Pos 3, Kiara Lawang

Jam 14.10 sampai, satu jam duapuluh menit waktu tempuh perjalanan.
Pos 3  cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda, namun jangan dijadikan opsi utama untuk mendirikan tenda karena puncak masih jauh.

Di pos ini pemandangan cukup bagus, pemandangan kearah bawah membuat jiwa yang dilanda keletihan sontak segar kembali berada ditempat ini, lupakan sejenak mules dan pusing..betah rasanyaaaahhh 😍.

Duapuluh lima menit istirahat langsung cuzzzzzz...otw Pos 4.


Pos 3, Kiara Lawang





Menuju Pos 4 kondisi jalur tak jauh beda dengan sebelumnya...nanjak dan nanjak terus, dengan terk yang masih seperti itu-itu juga.

Ada yang berbeda sepanjang jalur pendakian via Linggasana ini dibanding jalur Ciremai lainnya, yaitu pepohonan masih rapat, sangat alami, asri dan bersih...sangat jarang ditemukan sampah, serta tak ada bau-bauan yang menyebalkan... I Like It !!

Tanah masih terbilang gembor, jika hujan akan sangat licin karena jalan didominasi tanah gembor ditutupi dedauan kering dan masih jarang pijakan-pijakan akar seperti tangga.


Trek menuju Pos 4






Pos 4, Ki Jamuju

Jam 15.40 kami sampai, lima puluh lima menit perjalan menuju Pos 4.
Lagi asik-asiknya ngemil dan ngopi, tiba-tiba gerimis mengundang datang...arrgghhhhh.

Suami dan teman-teman segera mendirikan flysheet, dan saya pun menonton dengan manis sambil foto-foto, mengumpat dalam hati : awas aja bikin flysheet trus bikin tenda disini dan bermalam..saya mau manyun sepanjang malam pada suami (memberi kode keras sangat tidak setuju bermalam di Pos 4).

Lumayan lama beristirahat...hampir dua jam.

 Pos 4, Ki Jamuju



Namun...dasar rejeki istri sholeh, gerimis turun tak begitu lama dan langsung cerah...huhuuuuuyyyy....Tx God !!
Ughhhhh...senang banget bisa melanjutkan perjalanan, jam 17.00 kami cuzzzzzzz.

Trek menuju Pos 5



Pos 5, Ki Bima

Jam 18.35 sampai di Pos 5, satu jam tiga puluh lima menit perjalanan dari pos 4 ke pos 5.
Sudah sangat gelap, jadi kami memutuskan tidak beristirahat lama, hanya melemaskan kaki selama lima menit dan langsung melanjutkan perjalanan.



Pos 5, Ki Bima


Jam 19.10 kami sampai di selter Cakrabuana, istirahat sejenak dan cussssss lagi.


Cakrabuana


Setelah tigapuluh menit perjalanan..break, Ato merasa sudah lemas karena lapar.
Kami berdiskusi apakah melanjutkan perjalanan atau bermalam ditempat ini ?
Akhirnya kami memutuskan bermalam.

Semua langsung sibuk mendirikan tenda, kecuali Wirman karena kali ini dia yang bertugas untuk memasak.
Alhamdulillah...riang bahagia rasanya saya bebas dari tugas memasak, artinya saya harus giat mendirikan tenda lalu sleeping slonjor sambil menunggu masakan tersaji....ooohhhh indahnyaaaa. 

Lagi enak-enak bersleeping bag, suami membangunkan saya untuk makan, saya malas sekali sebenarnya, tapi begitu melihat menunya adalah ikan asin saya bersemangat.
Saya langsung melahap makanan dengan cepat dan setelah itu tidur kembali 😂.

Mahluk-mahluk yang kelaparan 😄

Subuh-subuh saya terbangun, namun enggan beranjak karena yang lainnya belum bangun.
Hingga akhirnya bangun semua baru saya keluar tenda, karena diluar sudah berisik menyuruh saya dan suami untuk sarapan.
Aduuuhhhhh...riang gembira lagi karena sudah tersedia nasi goreng 😆.
Namuuunnnn setelah sarapan mules dan pusing semakin menjadi-jadi...arghhhhhhh.

Karena kebanyakan malas-malasan akhirnya kami baru memulai perjalanan lagi pukul 06.15 menuju puncak.

Tempat kami bermalam, sebelum Pos 6


 Trek menuju Pos 6





Pos 6, Tarawangsa

06.25 sampai di Pos 6, haduhhhh cuma 10 menit saja perjalanan dari tempat camp, tau dekat begini lanjut perjalanan aja tadi malam ke Pos 6...kwkwk.

Disini ada dua buah tenda berdiri, dan kami langsung dengan pede nya memastikan jika itu tenda hijaber.
Tentu saja kami pede...selama pendakian hanya bertemu dan susul menyusul dengan hijaber saja, tidak ada pendaki lainnya lagi.

Di Pos 6 ini lah adanya pertigaan menuju jalur baru dan jalur lama.

Jalur ke arah kanan adalah via Linggasana Lama, yang akan tembus diantara Bapa Tere dan Batu Lingga jalur Linggarjati.

Sedangkan jalur Linggasana Baru mengarah ke kiri, sehingga tidak perlu lagi melewati jalur Linggarjati.

Pos 6, Tarawangsa


Sepuluh menit kami beristirahat, lalu menuju pos 7 dengan trek yang masih hampir sama seperti sebelumnya.


 Trek menuju Pos 7







Pos 7, Kandang Wesi

07.35 sampai, satu jam perjalanan dari pos 6 ke pos 7.
Kami beristirahat sepuluh menit dan melanjutkan perjalanan lagi.





Trek menuju Pos 8 ???
Yaelahhhhh....udah seneng-seneng tadi di Pos 7 berada di 2400 Mdpl, eehhhh jalan turun naik di trek ini...mengurangi Mdpl saja 😭.



Trek menuju Pos 8




Pos 8, Sampalan Sijalatuna

08.40 sampai, memakan waktu lima puluh menit untuk sampai ke pos ini sudah berikut banyak istirahat dan jalan lelet.


Pos 8, Sampalan Sijalatuna



Di Pos ini Wirman dan Ato mendahului kami untuk melanjutkan perjalanan, karena saya masih ingin istirahat menikmati mules dan pusing....eaaa...eaaaa..eaaaa.

Dan disini lah awal bencana (lebay), karena setelah ini saya tidak bertemu lagi dengan Wirman dan Ato.

Tiga puluh menit Saya, Suami, Agus dan Tyo beristirahat, lalu melanjutkan perjalanan menuju Pos 9.
Sudah merasa tak kuat sebenarnya, karena setelah pos 8 saya merasa lemas dan banyak digandeng oleh suami sepanjang perjalanan.

Trek yang dari awal hampir sama semua penampakannya, kini mulai berubah karena sudah lebih terbuka dan jarang pepohonan, mulailah panas terik matahari menemani langkah kami.
Dan banyak berlindunglah kami diantara pepohonan kecil jika sudah merasa kepanasan...berlinduuuunnnggggg !!! bagai pasukan perang menghindari musuh 😂.


Trek menuju Pos 9

Senyum terpaksa, wajah-wajah kepanasan


Pos 9, Pangreureuban

10.20 sampai, lima puluh menit perjalanan kami.
Kami tak menemui Wirman dan Ato, anehhhhh...biasanya mereka selalu menunggu disetiap pos.

*Ternyata Wirman dan Ato bercerita jika mereka prustasi tidak menemui Pos 9, karena papan tulisan pos 9 tidak terlihat 😄.

 Pos 9, Pangreureuban


Sepuluh menit kami istirahat dan melanjutkan perjalanan.
Karena Pos 9 adalah pos terakhir saya sedikit bersemangat walaupun agak prustasi melihat puncak didepan mata namun jauh dihati, dan sangat jauh dikaki.

Menuju puncak perjalanannya sangat berat sekali, kami harus berperang dengan terik matahari dan mengurangi minum karena persediaan air sudah tidak banyak.
Saya banyak ditarik dan didorong suami karena melemah, lapar dan haus, namun kami harus tetap mengirit persediaan air dan makanan.

Saking panas dan irit air banyak beristirahat dan berlindung dibawah pohon Edelweis serta memakan arbei yang terdapat dipinggir jalur-jalur menuju puncak...lumayanlah buat ngurangi haus.







Puncak Ciremai

Alhamdulillah....12.50 sampai juga akhirnya di puncak, setelah berjalan dua jam dua puluh menit penuh perjuangan melawan panas.
Dan kami tidak bertemu dengan Wirman dan Ato, kemana mereka ??
Saya, suami sudah teriak-teriak memanggil, bahkan sudah berjalan kearah puncak Linggarjati namun tak nampak batang hidung mereka berdua, dan memutuskan menunggu mereka, barangkali saja mereka sedang muterin puncak Ciremai.

Sambil menunggu, saya, suami, Agus, Tyo menikmati keindahan puncak dengan berfoto-foto, bersantai, ngopi, dan makan.

 







Namun sampai jam 15.00 mereka belum muncul juga, kami menanyakan keberadaan mereka pada tiap pendaki yang ada di puncak, tapi tak ada yang tau.

Hingga akhirnya memutuskan turun karena hari sudah sore.
Sepanjang perjalanan kami merasa kuatir, apakah nyasar ? salah jalur ke Linggarjati ? atau masuk jurang ??? arggghhhhhh...saking kuatir kami sampai berpikiran yang buruk-buruk sepanjang perjalanan turun ke tempat camp.

Dan mari berharap, semoga mereka sudah ada di tenda ketika kami datang.
But...olalaaaaa, sesampainya ditenda tak ada siapa-siapa, lalu kemana mereka ???
Kami berempat berdiskusi...jika sampai jam satu malam mereka belum muncul, maka akan turun dan menunggu mereka di basecamp, jika tidak muncul-muncul juga maka meminta ranger untuk mencari mereka.

Yang dikuatirkan akhirnya muncul juga...legalah rasanya, mereka kami caci maki dengan candaan ala-ala radio bodol.
Ternyata dari puncak mereka turun lewat jalur Linggarjati karena ingin mengambil air di Batu Lingga...GUBRAKKKKK !!!

Setelah makan malam dan bongkar tenda, jam 21.00 memulai perjalanan turun menuju basecamp.
Perjalanan malam, banyak kejadian-kejadian aneh diperjalanan turun.
Dalam perjalanan paling depan Wirman, lalu Ato, Tyo, Agus, Saya, dan Suami paling belakang.

Baru beberapa menit melangkah saya merasakan ada yang meraba badan belakang, saya pikir suami, tapi saya segera tersadar yang meraba tangannya besar sekali, sontak saya melihat ke belakang ke arah suami...dan sudah pasti bukan suami saya yang meraba...@#$%&@.



Setelah itu suami meminta saya jalan lebih dulu, lalu berhenti menyoroti ke belakang membuat saya tak berani jalan karena Agus sudah jauh di depan.
Rupanya suami merasakan sesuatu, dia bertanya pada saya
- Nenk dingin ga ?
- Ga kang
- Dingin banget akang mah..
- Ga ah..panas

Dan setelah itu melangkah lagi, hanya beberapa langkah dengan jelas saya mendengar suara neng kunti dari arah kiri, langsung saya arahkan senter ke arah suara namun tidak ada apa-apa.
Beberapa langkah kemudian saya dan suami melihat sesuatu berwarna putih (entah apa) dari atas, lalu bunyi krakkk !! (ranting patah), tak lama kemudian dari arah belakang tiba-tiba suami berlari-lari akhirnya menabrak saya..saya benar-benar kaget, untung tanah datar sehingga saya bisa menahan agar tidak jatuh.
Rupanya suami di tarik dan didorong si neng kunti.

Dan melangkah lagi, kali ini saya diganggu..bagian depan rambut saya diganggu dengan dikebas-kebaskan ke depan, sehingga membuat saya risih karena mata terhalang rambut.

Berikutnya Wirman meminta break, karena si kunti menghadang perjalanan.
Kami break agak lama...beberapakali saya melihat sesuatu dibelakang Ato, tapi setiap disenter tak ada apa-apa.

Setelah merasa aman melanjutkan perjalanan, kali ini saya mendengar suara nafas suami aneh banget, saya agak ketakutan dan tak berani menoleh ke belakang melihat suami.
Saya berharap bisa memberitahu Agus agar Wirman berhenti, namun sulit sekali mendekati Agus..entah kenapa.

Dan saya pun berkali-kali merasakan dibelakang bukan suami saya, tapi sesuatu berwarna putih atau kuning, sedangkan suami memakai kaos warna gelap.

Hingga akhirnya kami sampai disumber mata air di Pos 2, dan berhenti untuk mengambil air.
Saya langsung mendekati Agus dan Wirman, memberitahu mereka jika suara nafas suami saya aneh, tolong diliat takut kenapa-napa..
Ternyata ketika ditanya suami merasa berat sekali, seperti sedang menggendong orang dibelakangnya.

Dan masih banyak kejadian aneh lainnya, tapi Alhamdulillah bisa sampai basecamp tanpa kurang satu apapun.

Ini adalah pendakian paling aneh dan paling meletihkan, sangat teramat menguras tenaga, maybe next time harus dua kali ngecamp di jalur Linggasana agar tidak gempor 😄.

Namun semua tetap happy, karena sepanjang perjalanan diwarnai dengan candaan yang tiada henti..dan bisa menikmati kelebihan pada jalur Linggasana Baru ini karena jalurnya yang masih benar-benar asri, tenang, bersih.



My Hubby (Nono)

Wirman

Agus

Tyo

 Ato




Artikel lainnya (KLIK) :

Traveler (Mountain Climbing) :


Tours (Traveling, Camping, Hiking) :
⏩ Wisata Religi ke Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon

Kuliner :
⏩ Kuliner Bandung : Kedai MeHek, maknyus harga bersahabat !!


Info :
⏩ 6 Tips Aman Persiapan Mendaki untuk Pemula dan Bukan Pemula
⏩ Fenomena Pendaki Kertas di Puncak Gunung 
⏩ Kisah Mistis Saat Pendakian Gunung




http://adventuresenja.blogspot.co.id/p/contact.html

http://adventuresenja.blogspot.co.id/p/about.html


#pendakianciremaivialinggasana #pendakianciremaivialinggasanabaru #pendakianciremaivialinggasanajalurbaru #ciremaivialinggasana #ciremaivialinggasanabaru #ciremaivialinggasanajalurbaru #pendakianciremaivialinggasana #pendakianciremaivialinggasanabaru2017 #pendakianciremaivialinggasanajalurbaru2017 #ciremaivialinggasana2017 #ciremaivialinggasanabaru2017 #ciremaivialinggasanajalurbaru2017 #gunungciremai #gunungciremailinggasana #gunungciremaijalurlinggasana #transportasimenujulinggasana #transportasimenujubasecamplinggasana #informasilengkapjalurlinggasana #informasilengkapjalurlinggasana2017 #linggasana #vialinggasana #jalurlinggasana #linggasanabaru #vialinggasanabaru #jalurlinggasanabaru #pendakiangunungciremai #pendakiangunungcirema2017

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Pendakian Gunung Ciremai via Linggasana Baru (Tidak lewat Linggarjati, jalurnya masih asri alami bikin gempor)"

  1. PenasaPen sama hal mistis yg dialami pendaki.... Good story

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tengkyu mas..
      Jangan penasaran mas...sy yg ngalaminya takut..haha

      Delete
  2. Karna Di SEKOPPoker Sedang ada HOT PROMO loh!
    Bonus Deposit Member Baru 80,000
    Bonus Deposit Weekend 50,000
    Bonus Referral 20% (berlaku untuk selamanya
    Rollingan Mingguan 0.3% (setiap hari Kamis)
    Daftar sekarang juga hanya di Sekopqqpoker.com
    sekop poker
    sekop 88
    poker 88
    poker 88 domino
    deposit via pulsa
    uang asli indonesia
    daily gift
    weekend gift
    bonus jackpot x3
    http://bit.ly/2pQ7LMb
    http://bit.ly/2NJhXQa

    ReplyDelete