Pendakian Gunung Cikuray via Pemancar (Kecil-kecil cabe rawit)

Mt Cikuray, Januari 2017
Gunung Cikuray adalah gunung tertinggi ke empat di Jawa Barat setelah Gunung Ciremai, Gede, dan Pangrango.
Gunung berbentuk kerucut ini memiliki ketinggian 2.821 mdpl, terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat.


View Puncak Gunung Cikuray




Sebelumnya Gunung Cikuray ini hanya bisa saya lihat keindahan nya dengan bentuk kerucut di Puncak Gunung Ciremai.
(baca : Pendakian Gunung Ciremai via Palutungan dan  Pendakian Gunung Ciremai via Apuy).

Kami tertarik ke gunung Cikuray karena katanya trek dijalur ini sangat mantap melehoy.
Walaupun hanya memiliki ketinggian 2.821 Mdpl namun mendapat julukan kecil-kecil cawit, bikin pedes dengkul treknya πŸ˜‚.
Dan itu jelas terbukti, tanjakan pilu sudah dimulai sejak awal pendakian..welehhh..welehhhh.

Ada 3 jalur pendakian di Gunung Cikuray, yaitu Cikajang (jalur lebih panjang, treknya lebih mudah di banding jalur lain nya), jalur Bayongbong (jalur terpendek namun treknya berat, curam & terjal) dan jalur Dayeuhmanggung/Cilawu atau biasa di sebut Pemancar (jalur lebih pendek dari jalur Cikajang, dengan treknya yang menanjak, curam dan terjal).



Tim Asoy Geboy
(ki-ka atas : saya & suami, ki-ka bawah : mba wisma & mas ade, tengah : denny)





 YouTube : Pendakian Gunung Cikuray via Pemancar

YouTube : Pendakian Gunung Cikuray via Pemancar 


Pendakian kali ini saya pergi berlima...saya, suami, Mba Wisma, Mas Ade, dan Denny.
Tiga nama terakhir adalah orang yang belum pernah bertemu langsung dengan saya dengan suami sebelumnya.
Mereka (Mba Wisma khusus nya) adalah kenalan saya di blog nya Mas Bem (simplyindonesia.wordpress.com), mereka dari kota Serang, Banten...atas dasar senasib dan entah sepenanggungan atau tidak (hahaha..😝), sama-sama punya hobi mendaki, sama-sama lelet, akhirnya kami memutuskan untuk bersama-sama mendaki gunung Cikuray ini.

Mba Wisma dan Mas Ade adalah suami istri, sedangkan Denny adalah keponakan mereka yang sudah mahasiswa.
Atas persetujuan bersama, kami memilih jalur Pemancar.

Persiapan saya lakukan apa adanya seperti biasa, yang pasti isi rumah bertebaran perlengkapan mendaki disana sini...kwkwk.




Untuk sampai Pemancar, naiklah bis jurusan Garut, turun di Terminal Guntur, dan gunakan mobil losbak yang mangkal di Terminal Guntur menuju Pemancar.
Mobil losbak biasanya mangkal di depan Terminal Guntur (antara Alfamart & Indomaret).
Ongkos menggunakan losbak dari terminal Guntur menuju Pemancar Rp.45.000,-/orang.

Pada hari Jumat, 20 Januari 2017 malam pukul 19.30 kami berangkat dari Cirebon menuju Garut menggunakan bis JS menuju Bandung, dengan ongkos bis Rp. 50.000,-/orang, dan turun di Cileunyi Bandung (pertigaan sebelum gerbang tol Cileunyi).

Jika pergi pagi, siang atau sore bisa menggunakan bis Bhineka atau Sahabat tujuan Cirebon-Bandung dengan biaya Rp.55.000,-/orang, dan turun di Cileunyi Bandung (pertigaan sebelum gerbang tol Cileunyi).

Di Cileunyi akan banyak sekali bis atau elf menuju Garut, seperti bis Karunia Bakti, Primajasa dll, yang terpenting carilah yang menuju Garut, dan turun di Terminal Guntur.

Kami sampai di Cileunyi tengah malam pukul 23.45, istirahat sebentar di sebuah warung sambil menunggu bis jurusan Garut yang lewat.
Melihat bis Karunia Bakti kami langsung bergegas, segera menuju pinggir jalan untuk memberhentikan bis tersebut.

Huppppsss..jam 24.15 kami sudah berada di dalam bis Karunia Bakti tanpa Ac, ongkos Rp. 20.000,-/orang.
Dinginnya minta ampun di bis ini, serasa berada di gunung yang terkena badai...euughhh.
Dan di perparah lagi dengan lantunan lagu yang sangat menggoda....argghhhh lagu-lagu dangdut !!
Saya yang berencana untuk tidurpun tak mampu memejamkan mata, karena rasanya gatal tak karu-karuan mulut ini jika tidak ikut mendendang dangdutan yang hampir semua lagunya saya hafal...hwehwehwe.

Pukul 01.15 sampai ke Terminal Guntur, karena jalan kosong melompong hanya 1 jam saja perjalanan Cileunyi ke Terminal Guntur Garut.
Kami langsung turun dan beristirahat disebuah warung sambil mengisi perut dengan nasi dan ayam goreng.

Sambil menunggu kedatangan gank dari Serang, kami ngobrol-ngobrol dengan pendaki yang silih berganti berdatangan.
Berkenalanlah kami dengan seorang pendaki, bapak muda yang masih pengantin baru asal Garut bernama Jajang.

Jajang inilah yang sangat setia menemani kami, hingga membantu kami mencarikan mobil losbak menuju Pemancar.
Berjam-jam Jajang menemani kami hingga menjelang pagi, alangkah baiknya bapak muda satu ini..Terimakasih banyak a...semoga kelak kita bisa berjumpa kembali, ditunggu kedatangannya di Cirebon..muncak Ciremai :)

Jajang & Suami..asik ngobrol tukeran kontak

Gank Serang tak kunjung tiba, di telpon dari waktu ke waktu masih setia berada di Purwakarta, karena jalur dibelokan akibat adanya jembatan rusak.
Mereka baru tiba di terminal Guntur pagi hari sekitar pukul 07.00.

Setelah aksi berkenalan cipika cipiki dan melengkapi logistik di mini market, kami langsung naik mobil losbak yang sudah setia menanti dalam penantian panjang.


Rombongan mobil losbak di Terminal Guntur Garut

Pukul 07.30 kami meninggalkan terminal Guntur menuju Pemancar.
Saya dan Mba Wisma duduk didepan, para lelaki tangguh dan carrier untel-untelan di belakang bagai ikan pindang kekurangan air..ahiwww !!

Layaknya seperti seorang sahabat yang sudah lama tak berjumpa, sepanjang perjalanan saya dan Mba Wisma ngalor ngidul bercerita tiada henti nya...padahal itu adalah pertemuan pertama kami.
Maklumlah..namanya juga emak-emak rempong πŸ˜‚.

Sebelum sampai di Pos Pemancar, pak supir mengingat kan kalau sebentar lagi akan ada pendataan dan mengeluarkan biaya seiklasnya, untuk RT setempat.
Turunlah kami untuk mengisi data dan memberikan biaya seiklas nya.

Bayar seiklas nya di sini

Lalu kami melanjutkan perjalanan....tak berapa lama kemudian didaerah perkebunan teh, pak supir mengingatkan kembali kalau di depan akan ada pendataan lagi dengan biaya Rp. 10.000,- per orang,
Turun lagilah kami untuk memenuhi registrasi tersebut.
Turun naik..turun naik...syantikkk...syantikkk 😍.

Bayar 10rb di sini


Dan...lanjutkan perjalanan lagi menuju Pos Pemancar.
Sepanjang jalan di dominasi batu-batu pas satu mobil...sungguh lihai pak supir mengendarai mobil, tapi badan saya sakit-sakit karena guncangan mobil yang tiada hentinya, bagaimana nasib para lelaki tangguh di belakang mobil ?? ...pasti lebih sengsara daripada saya.

Tepat jam 09.00 kami sampai di Pos Pemancar..artinya satu setengah jam perjalanan dari Terminal Guntur ke Pos Pemancar.

Dan turunlah para lelaki tangguh dari mobil seperti pindang-pindang yang berebutan air, menemukan kebebasan serta jati dirinya ...berhamburan turun dari mobil.

Lelaki tangguh berhamburan turun dari mobil

Disana kami istirahat sebentar, terdapat beberapa warung dan toilet umum (Untuk masuk ke toilet umum dikenakan biaya Rp. 3000,-) , kami mengisi perut dan mengumpulkan tenaga.

Setelah siap kami memulai perjalanan menuju Pos 1, tak lupa membaca doa sebelum melangkah.

Di awali dengan memasuki area kebun teh..trek langsung menanjak pilu.
Dan...baru sebentar saja para emak-emak dan babeh-babeh kehabisan nafas.....mari lakukan ritual
banyak istirahat !! banyak bicara !! dan banyak foto-foto !!

Otw Pos 1



Pos 1 dari kejauhan

Pos 1 

Sekitar 55 menit kami sampai di Pos 1.
(semua estimasi waktu perjalanan yang ada di artikel ini sudah termasuk perjalanan plus ritual istirahat dan istirahat serta istirahat....banyak banget ya istirahatnya...catet ! banyak banget istirahatnya !) 

Di pos inilah tempat melakukan registrasi pendakian, Rp. 15.000,- per orang.
Ampun deh.. tiga kali harus registrasi sana sini.

Pemandangan di Pos 1 ini sangat indah dan menyejukan jiwa raga yang merana akibat keletihan πŸ’¦πŸ’¦

Bayar 15rb disini



Pukul 10.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 2.
Dimulai dengan Tanjakan Cihuy yang benar-benar cihuyyyy..huyyy..huyyy.
Kelak ketika turun...tanjakan ini sangat tampak mengerikan...*lebay.

Denny selalu berada di depan dalam pendakian, wajarlah...karena dia yang paling muda...secara saya, suami, Mba Wisma dan Mas Ade adalah emak-emak dan babeh-babeh loyo nan seksoy geboy.
Dua gelar yang Denny sandang saat pendakian, sebagai keponakan merangkap porter juga tentunya..good job !! 😝

Sedangkan suami dan Mas Ade bak porter nan gagah perkasa padahal loyo ngos-ngosan gembal gembol membawa kulkas 4 pintu (baca : carrier besar & berat).

Mba Wisma sudah tentu sebagai tim penggembira yang dengan anggun dan cantiknya berlenggak lenggok bagai pragawati di atas catwalk (tanpa kulkas)...eaaaa...aeaaaa...eaaa !!

Saya ???? lupakanlah saya ini...karena penampilan sudah tak layak untuk di ekspose dengan membawa kulkas 2 pintu.

Tanjakan Cihuy



Para porter nan gagah perkasa...ngos-ngosan di tanjakan cihuy πŸ˜‚
lenggak lenggok...ahiwww..ahiwww 

Setelah hah heh hoh melewati Tanjakan Cihuy, trek silih berganti menanjak dan bonus, menanjak dan bonus...hingga akhirnya menanjak terus, susah cari bonusnya...bonus mana bonus woiiiiii 😈.
Berbagai macam tanjakan dengan berbagai nama..tanjakan ambing, wakwaw, taraje dan entah apa lagi namanya.

Sangat banyak tulisan dalam pendakian ini, berbagai macam tulisan Arab gundul, sampah harus di bawa kembali, jagalah kebersihan, warning dll.. saya sendiri sudah tidak hafal tulisan apa saking banyaknya...karena yang ada di otak saya hanya mencari tulisan Pos 2 yang tak kunjung terlihat.

Yang aneh...setiap ada pendaki yang turun saya tanya dimana Pos 2 ? masih jauh ga ?
Berbagai macam jawaban yang saya dapat...ga tau bu, sebentar lagi bu, masih jauh kayanya teh, kayanyanya pos 2 udah kelewat tante ! dll. (whatttttt...kelewat ??).

Jawaban yang sepertinya hoax..kok tidak ada satupun yang bisa memberi jawaban pasti, jangan-jangan kaga ada Pos 2....mungkin langsung Pos 7 trus sampai puncak ??? huhuuyyy.
*menghibur hati yang gundah gulana dalam penantian mencari Pos 2.

Satu jam perjalanan hujan turun, namun tidak lama.....tapi sudah tentu membuat kami semakin tak mendapatkan bonus karena trek menjadi licin menyebalkan.

Dalam trek ini kami sangat teramat banyak melakukan jalan lelet dan istirahat sangat teramat sering, sungguh menguras tenaga menuju Pos 2.





Ada perbedaan yang saya rasakan dalam pendakian di Cikuray, entahlah rasa apa itu (mungkin rasa yang pernah ada ?) saya sendiri tidak dapat melukiskannya dengan kata-kata, so.. lukiskan saja dengan kuas trus pake cat air trus amburadul hasilnya ! 😢.
Perasaan yang selalu mengikut-ikuti setiap nafas dan langkah saya, perasaan tidak enak dan sangat tidak nyaman, tapi saya tidak tau apa πŸ˜•.

Yang parahnya lagi, 3/4 perjalanan menuju Pos 2 saya mulai merasakan badan terserang demam, menggigil, kulit seperti ditusuk-tusuk beribu-ribu jarum suntik, tulang-tulang ngilu, tenggorokan tiba-tiba sakit luar biasa seperti luka..persis seperti sakit yang saya rasakan ketika thypus dan demam berdarah.
Rasanya serba salah, tidak pakai jaket menggigil, pakai jaket saya sesak nafas..kata orang sunda mah "eungap".

Suami berkali-kali meminta saya untuk beristirahat karena menurutnya wajah saya sudah sangat pias.
Iseng-iseng saya amati wajah saya dengan camera depan hp....wowwww sungguh cantik jelita bagai mayat hidup !!...piassssss tiada terkira !! arrrgghhh 😈.
Beberapakali saya tertidur pendek saat istirahat, rasanya mata sudah tak kuasa untuk terbuka.
 
Sebenarnya saya sudah tidak punya daya saat itu, saya benar-benar sakit tapi saya tak mau mengutarakannya karena tidak ingin membuat yang lain cemas.


Pos 2

Pukul 13.50 kami sampai di Pos 2 dengan perjuangan panjang nan meletihkan selama 4 jam perjalanan (sudah termasuk istirahat)....luarrrrr biasaaaa lama nyaaaaaa !!

Tulisan Pos 2 terbilang kecil, pantas saja banyak pendaki yang tak menyadari adanya Pos 2 ini.
Hampir 1 jam kami istirahat di sini, saya duduk bersandar pada carrier dan tertidur lagi karena sudah tak kuat menahan sakit dan kantuk. 

Pos 2

Pukul 14.10 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3.
Tidur tidak membuat sakit semakin membaik, tapi setidaknya saya merasa sedikit punya tenaga untuk melangkah.

Trek menuju Pos 3 di dominasi akar dan tanah licin, terus menanjak tiada henti.




Trek semakin curam, terjal dan licin, pandangan dan pikiran sudah semakin kosong, untuk bicara saja sudah tak sanggup namun sesekali saya masih bisa bercanda dengan suami, Mba Wisma, Mas Ade dan Denny untuk melupakan sakit yang saya rasakan.

Kami berlima terlihat jelas dilanda keletihan mendalam, tapi terus berjalan lelet dan banyak istirahat.
*biar lelet asal selamat, biar selamat harus lelet 😜 .

Yang saya amati, bukan kami saja yang mengalami keletihan, karena para pendaki lainpun yang notabenenya masih jauh lebih muda banyak yang tertinggal dibelakang susul meyusul dengan kami silih berganti, sehingga dalam pendakian kali ini saya tidak merasa berada dibarisan akhir yang tertinggal, karena masih banyaknya pendaki lain jauh dibelakang kami.


 Trek dari Pos 2 menuju Pos 3







 Pos 3

Pukul 16.30 kami sampai di Pos 3.
Artinya 2 jam 45 menit perjalanan (sudah termasuk istirahat) dari Pos 2 ke Pos 3.
Hanya 5 menitan saja kami istirahat di Pos 4, karena hari sudah semakin sore, jadi kami bergegas meninggalkan Pos 3 menuju Pos 4...cusssssssss.


Pos 3


Trek masih ampun-ampunan menanjak dengan akar dan batu disana sini, saya semakin menggigil karena hari semakin sore dan dingin, saya sudah merasa tak tahan merasakan sakit yang semakin luar biasa.
Walau pun berkali-kali suami mau pun Mba Wisma menawarkan makan atau pun minum saya tak kuasa untuk menuruti permintaan mereka karena tenggorokan serasa luka di cabik-cabik sabit rumput sakitnya luar biasa....minum saja sakitnya tersiksa, apalagi makan...NO NO NO !

Ini lah masa-masa saya sudah tak punya selera untuk apa pun juga, bahkan untuk mengeluarkan suarapun tak napsu.

Namun ada waktu yang akhirnya membuat saya benar-benar merasa tidak kuat lagi, hingga saya paksakan minum tolak angin, (tolak badai, tolak petir, tolak cinta ??) karena hanya itu yang saya mampu, saya tak punya daya jika harus menelan pil atau tablet.

Pilihan saya ini ternyata tidak salah, sedikit demi sedikit rasa tertusuk-tusuk beribu-ribu jarum suntik agak berkurang.

Kami mulai mengeluarkan headlamp, jalan semakin perlahan karena hari sudah mulai gelap.





Pos 4 

Akhirnya tiba di Pos 4  jam 18.30, dua jam perjalanan (sudah termasuk istirahat) dari Pos 3 ke Pos 4.
Kami istirahat agak lama disana karena banyak juga pendaki lain yang istirahat, ngobrol-ngobol.

Salah satu dari mereka keram kaki, dengan semangat '45 Denny membantu menyembuhkannya.
Secara yang keramnya cewek, sudah tentu semangatlah Denny..cieeee cieeeee...sambil menyelam minum obat nyamuk....hueekkkssss.
Entahlah...Denny ini sebenarnya mahasiswa, keponakan, porter atau tukang urut ya ? tiba-tiba saja dia punya banyak profesi ketika di gunung...hahaha πŸ˜‚.

Tadinya kami akan nge-camp di Pos 4, tapi karena tidak ada lahan yang layak akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 5.

Perjalanan menuju Pos 5 walau pun trek masih tak kenal ampun, saya mulai merasa membaik, sedikit demi sedikit semangat mulai timbul kembali...sedikit loh ya..ingat !! sedikit kaga pake banyak.



Pos 5

Entah jam berapa kami tiba di Pos 5, jarak antara Pos 4 ke Pos 5 tidak terbilang jauh (menurut saya).
Kami banyak berdiskusi di pos ini, apakah nge-camp di Pos 5 atau melanjutkan perjalanan ?? mari berpikir.


 Pos 5 gelap gulita
 

Secara fisik walaupun tidak fit saya masih mampu melanjutkan perjalanan, makanya saya terserah saja mau di lanjut kan atau tidaknya perjalanan ini.
Lanjut okay, tak lanjutpun saya okay.
 
Tapi Mba Wisma yang sudah seharian berlenggak lenggok di catwalk keletihan, sudah tak tahan ingin ber sleeping bag ria, sedangkan lahan di Pos 5 teramat sempit.
Di bolak balik, di puter-puter, diamat-amati sampai jungkir balik nangis guling-gulingan diakar (gubrakkk, lebay)....akhirnya kami memutuskan mendirikan tenda di lahan yang sempit-sempitan 😳.

Normalnya di Pos 5 ini hanya cukup untuk 2 tenda saja, lahan di bawah sudah berdiri satu tenda orang lain.
Jadi kami mendirikan tenda di lahan atas yang sebenarnya hanya layak untuk satu tenda.
Tapi apa mau di kata...kami paksakan bisa mendirikan dua tenda, hingga bagian belakang tenda kami sedikit menghalangi jalan lewatnya para pendaki πŸ™.

Saya sudah tak ingin berdiam diri saat itu, karena diam membuat saya menggigil.
Segera saya bantu suami mendirikan tenda.
Ketika tenda sudah akan jadi, saya langsung memasukan carrier ke dalam tenda dan beres-beres di dalam tenda agar bisa segera ber sleeping bag...saya sudah tak tahan dinginnya luar biasa.

Di dalam tenda sudah beres, saya langsung memasukan ujung kaki hingga ujung rambut ke dalam sleeping bag.
Jadi yang ingin ber sleeping bag ria sebenarnya saya atau Mba Wisma ya ?? tidak perlu di jawab..ngabis-ngabisin tenaga.

Tapi.....Arrgghhh...ternyata kami mendirikan tenda diatas akar, sakit semua rasanya badan ini.
Geser ke kiri akar, geser ke kanan tetap akar, geser ke depan akar juga, geser ke belakang masih akar, geser ke bawah innalilahi, geser ke atas goodbye aja deh lu !!

Bagaikan pribahasa mengatakan : Tak ada rotan akar pun jadi.
Aduhhhh...rotan ogah apalagi akar !
Namun sebagai lulusan sastra yang baik, akhirnya saya tidur diatas akar mengikuti pribahasa tadi, agar terlihat sebagai lulusan sastra yang cerdas tangkas dan sangat tidak berwibawa...euuughhh dezzziiigggghh😠. *maafkan aku almamater.

Entah apa yang terjadi diluar sana...Suami, Mba Wisma, Mas Ade, Denny  masih sibuk mendirikan tenda satunya...saya sudah tak mampu keluar tenda nan dingin mencekam.
Dan..persoalan akar terlupakan karena kantuk sangat mendera, seketika itu juga saya tertidur pulas, lupa segalanya πŸ’€πŸ’€πŸ’€πŸ’€πŸ˜«πŸ˜ͺ *ngorok bebas *ngeces indah.

Pukul 04.00 subuh suara Mba Wisma yang merdu merayu mulai berisik banget membangunkan kami untuk summit attack.
Kami bangun dengan malas-malasan...mengganti baju, menyiapkan perbekalan dan pergi subuh-subuh menuju puncak.

Alangkah bahagianya saya tidak perlu membawa kulkas dua pintu, karena tenda dan barang yang tidak di perlukan kami tinggal kan di Pos 5.
Silakan ekspose saya..atau mau jumpa pers juga boleh, karena kini saya mengikuti jejak Mba Wisma sebagai tim penghibur berlenggak lenggok di atas catwalk πŸ’•.

Cusssss....nikmati sunrise dan trek ekstrim menuju Pos 6.







Trek masih di dominasi tanah licin dan akar, dan sudah pasti menanjak terus tiada henti.
Hingga perjalanan ini saya belum pernah sekalipun melihat ujung puncak karena pohon-pohon sangat rapat di setiap trek.


Pos 6 (Puncak Bayangan)

Entah jam berapa kami sampai di Pos 6, pos yang cukup luas dan banyak berdiri tenda disana.
Disini terdapat tenda petugas/sukarelawan, yang menyediakan air, juga tersedianya wc umum.
So...yang persediaan airnya sudah menipis bisa minta air di Pos ini.

Pos 6 (Puncak Bayangan)

Tenda petugas tempat tersedianya air

Kami istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan menuju Pos 7.
Dalam trek ini saya, suami dan Denny berjalan lebih cepat dari Mba Wisma dan Mas Denny, sehingga akhirnya kami terpisah.
Beberapa kali kami menunggu mereka, saling memberi kode teriakan "uuuuuuuhhh", hingga akhirnya lama kelamaan suara merekapun sudah tak terdengar saat diberi kode, artinya mungkin mereka sudah tertinggal jauh, kami bertigapun terus melalukan perjalanan.

Trek lebih sempit tapi tetap didominasi tanah licin dan akar.


Pos 7

Pukul 06.50 kami sampai di Pos 7.
Saya masih bertanya-tanya dalam hati, ini pos terakhir tapi mana puncaknya ? pohonnya kok masih rapet-rapet juga ??
Di Pos ini kami tidak istirahat, kami langsung melanjutkan perjalanan.

Pos 7
 



Tak lama kemudian puncak di depan mata (walau tetap tidak terlihat yang mana puncaknya), tapi saya melihat sebuah bangunan kecil diatas, karena bangunan itulah ciri khas Puncak Gunung Cikuray.
Sangat dekat dari Pos 7 menuju puncak, lahan untuk mendirikan tendapun tersebar di mana-mana.

Yeyyyy....saya sangat bersemangat melihat puncak didepan mata dan tak jauh di kaki πŸ˜—.

Saya berjalan santai menuju puncak, maklumlah namanya juga lagi berlenggak lenggok di atas catwalk, santai ajaaaaa broooo....πŸ˜ŽπŸ’ƒ.

Menuju puncak


Sangat jelas sekali di puncak penuh sesak orang dan tenda, jalan menuju atas puncak pun terasa sulit karena orang disana sini....satu persatu dari mereka menyapa kehadiran pragawati yang gagal pentas ini.
Saya berasa sedang berada di pasar tumpah ketika detik-detik menuju puncak, ramai sekali rasanya.


Puncak Gunung Cikuray 2821 Mdpl

Dan yessssss....sampai di puncak !!!
Pukul 07.15 saya, suami dan Denny sampai di Puncak Gunung Cikuray.
Menurut saya pribadi, bentuk puncak Cikuray tak ada yang istimewa karena penuh tenda dan orang.
Pantas saja puncak ini lancip seperti kerucut, karena ternyata luas puncaknya pun kecil.
Terdapat bangunan kecil ukuran 2,5m x 2,5m di puncak, banyak pendaki yang naik ke atas bangunan tersebut untuk berfoto, tapi saya tidak berminat untuk keatas...naiknya pun harus susah payah...males banget rasanya πŸ˜€.


Puncak Gunung Cikuray 2821 Mdpl






Namun....Subhanallah, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan............πŸ’š.
Pemandangan dari puncak Cikuray benar-benar luar biasa indahnya.
Sangat jelas terlihat Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Slamet, Gunung Tangkuban Parahu dan gunung-gunung lain nya.

Yang paling merasa takjub adalah ketika saya bisa melihat dengan sangat jelasnya Gunung Ciremai berdiri kokoh gagah perkasa, paling tinggi dan mempesona... wowww !! wowwww !! wowww !! *biasa aja keleusssss ga usah pake melongo bego.

 Gunung Ciremai terlihat jelas dari Puncak Gunung Cikuray


Sekitar satu setengah jam kemudian muncullah batang hidung pasangan asoy geboy Mba Wisma dan Mas Ade di Puncak.

 


Sibuklah kami ber selpih-selpih....cissssssssss πŸ’‹.

Surprise banget..ada seorang pemuda yang jualan souvenir duduk sendirian kedinginan ditengah-tengah puncak....benar-benar seperti pasar...hohoho.
Kehadiran pemuda ini ada manfaatnya, sehingga saya bisa memiliki aksesoris ala Cikuray.

Saya beli dua buah t-shirt, lima gantungan kunci, enam bordiran dan tiga stiker.
Ini adalah aksesoris termahal yang pernah saya miliki sepanjang sejarah hidup, bukan mahal dari harganya (harga masih relatif terjangkau, tidak mahal)...yang mahal perjuangannya menuju puncak bo !! eduuunnnn deh donk..beli aksesoris di puncak, gaya bangetkan gw ??? sungguh sangat kekinian banget si gw ini πŸ’£.







Saya sangat menyayangkan dengan adanya tenda-tenda diatas puncak, plissss donk untuk pendaki jangan mendirikan tenda dipuncak, selain tidak disarankan, berbahaya, keberadaan tenda-tenda sangat mengganggu pendaki lainnya yang ingin menikmati puncak secara utuh.

Puncaknya sempit, orangnya banyak....semakin sempit lagi dengan adanya tenda-tenda di puncak.
Toh lahan untuk mendirikan tenda masih sangat banyak di bawah, dan tidak jauh dari puncak, jalan 3-5 menit sudah sampai.

Lanjuttttt..
Setelah puas di puncak kami turun kembali, karena perut kami semua sudah tak kuasa menahan lapar.
Tak mungkin masak di Puncak, anginnya sangat kencang dan penuh sesak dengan orang dan tenda.

Agak susah-susah gampang mencari tempat yang nyaman, ditempat yang ini bau di tempat yang itu ada sampah....banyak juga pendaki yang masih tidak punya kesadaran menjaga kelestarian alam πŸ’”.
Di area Pos 7 kami menemukan tempat yang paling sesuai untuk memenuhi hasrat kami memberi makan naga-naga di perut.

Lima mi instant berikut bawang putih, bawang merah dan cabe rawit saya masak bersama Mba Wisma.
Setelah masak kami makan bersama, bergantian makan dalam satu nesting untuk bersama-sama, bagai pengungsian yang belum makan sejak masa kanak-kanak 😜.

Tim asoy geboy salatri (kelaperan pisan)


Sesudah memenuhi hasrat naga-naga dalam perut kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 5.
Seperti saat nanjak... saya, suami dan Denny jalan lebih dulu meninggalkan pasangan asoy geboy nan menawan pada perjalanan turun ini.

Hampir tak ada istirahat perjalanan turun saya, suami dan Denny dari Pos 7 menuju Pos 5.
Kami hanya berhenti sebentar di Pos 6 karena Denny meminta air di pos petugas, mengisi botol air mineral yang sudah habis.

Untuk air di pos ini saya tidak tau, apakah bisa bayar seiklasnya atau benar-benar gratis...tapi Denny mendapatkan air tanpa dikenakan biaya.

Setelah itu lanjut perjalanan hingga Pos 5.




Sesampai di Pos 5, sambil menunggu pasangan asoy geboy kami membereskan perlengkapan di dalam tenda.
Satu jam kemudian pasangan asoy geboy datang, dan kami mulai membongkar tenda.

Pos 5 (packing)

Setelah semua beres, kami memulai perjalanan turun.
Dan tak lama setelahnya hujan turun, kami menggunakan raincoat dan melanjutkan perjalanan.
Seperti biasa....pasangan asoy geboy dibelakang kami..entah sampai dimana dan ada dimana.

Karena Denny kebelet, dia akhirnya turun duluan jauh meninggalkan saya dan suami.
Hujan membuat saya, suami dan pendaki lainnya terpeleset berkali-kali.
Baru kali ini saya banyak terpeleset dalam pendakian.
Trek Cikuray memang luar biasa menguras tenaga dan menguras otak...kejam...sangat curam, terjal dan licin...perjalanan turun lebih menyiksa.

Rasanya sedikit terganggu dalam perjalanan turun ini, karena beberapakali terpeleset membuat kaki saya sedikit terkilir dan senat senut.
Sesekali saya berhenti untuk membenarkan sepatu dan meluruskan kaki, melanjutkan perjalanan.

Sayapun harus berjalan bertumpu pada jari kelingking kanan dan kiri, karena jempol kaki kanan kiri masih cedera akibat pendakian Gunung Ciremai via Palutungan.
Hingga kini kuku di jempol masih betah bertengger di jari yang budug butek bluwek, sudah setengah mau copot tapi kaga copot-copot...merusak pemandangan dan bikin ngilu saja.

Saya beberapakali meminta suami untuk jalan duluan saja agar meninggalkan saya, karena melihat suami ingin berjalan cepat sedangkan saya mau tak mau harus berjalan lambat, kendala kaki senat senut, harus super hati-hati.

Kali ini suami punya hobi baru.
Saya minta suami meninggalkan saya saja, tidak perlu menunggu-nunggu saya.
Yang terjadi adalah..suami selalu berjalan jauh meninggalkan saya, setiap suami telah melalui trek yang sulit diapun berhenti menunggu saya.

Tapi ketika saya akan mulai melewati trek yang sulit tersebut, suami malah ngeloyor pergi tanpa basa basi bakso bakwan bakmi πŸ’¨, dan ketika saya terpeleset jatuhpun suami tidak pernah tau.
Hal seperti itu dilakukannya berkali-kali...pergi, menunggu dan meninggalkan..pergi, menunggu dan meninggalkan...seperti itu terus, sungguh hobi baru yang aneh dan meyebalkan πŸ‘€.

Akhirnya saya beriringan berjalan dengan pendaki-pendaki lain, yang tiba-tiba saja menjadi kompak berseri mengukir prestasi !!...yang satu jatuh..semua ikutan jatuh, yang satu terpeleset..semua ikut terpeleset...gubrakkk gubrakkkk gubrakkkkk...sungguh kompaknya kami !!! *kompak kok jatuh bareng..kaga elit banget. 

Saya sudah tidak tau ada dimana, hujan membuat saya sulit berpikir (ahhhh..padahal kaga hujanpun sulit berpikir) agak-agak pusing otak juga memikirkan kenapa Pos 4 lama sekali sampainya...rasanya mulai kesal, perasaan waktu nanjak dari Pos 4 ke Pos 5 tidak sejauh ini.
Saya mulai stres....mana Pos 4 ?? mana Pos 4 ?? manaaaaa ????!!! *jejeritan sendirian di dalam hati.

Dalam jeritan hati tiada akhir, tiba-tiba pendaki dibelakang saya berucap pada temannya....Nahhh ini udah sampai Pos 2 !!

Saya melongo seorang diri...Hahhhhhhh !!!!! Pos 2 ??? kok udah Pos 2 ?? masa sih ?? ah yang bener ?? yakin ?? πŸ’¬πŸ’­.
Dan ternyata benar itu memang Pos 2.
Lalu dimana Pos 4 dan Pos 3 nya  ??? kok tiba-tiba udah nyampe Pos 2 ?? *bertanya dalam hati sendirian...dan sudah pasti kaga ada yang jawab.

Sungguh saya heran dengan Pos 2 ini..waktu nanjak di cari-cari kaga nyampe-nyampe, giliran turun kaga di cari malah nongol.... aneh bin ajaib, Cikuray oh Cikuray !

Saya bersorak-sorak..tetap sorak dalam hati tentunya...Uhuuuuyyyy sudah sampai Pos 2.

Atau mari ber asumsi....mungkin Pos 4 dan Pos 3 nya hilang ?? mungkin Pos 4 dan Pos 3 nya pindah ?? mungkin Pos 4 dan Pos 3 lagi jalan-jalan ?? mungkin Pos 4 dan Pos 3 letih ?? atau mungkin malah Pos 2 nya lagi pengen eksis ?? mungkin Pos 2....????? beuddddddhhhh ahhhhh...lupakan !!


Lanjut ke perjalanan...
Dengan trek yang masih ekstrim seperti itu itu juga, itu itu terus, itu itu lagi !! Saya berusaha bersemangat karena sudah melewati Pos 2.
Tapi semangat turun naik karena terpeleset lagi terpeleset lagi...yang paling parah ketika saya meluncur indah bak penari balet....surrrrrrrrrr gedebag gedebug gubrakkkk !!!
Dengan posisi akhir memenangkan kontes balet tingkat hutan rimba...kaki kanan nekuk ke belakang nyangkut ke atas tanah, kaki kiri lurus ke depan mentok ke batu.... *tepok jidat berjuta kali, pengen nangis tapi malu.

Setelah itu wajah saya sudah tak bisa mengukir senyuman cantik indah merona..langsung pasang wajah manyun, bahkan senyuman kecut pun saya tak sudi...sakitnya minta ampun...whuaaaaaaa 😭 *nangis membara dalam hati.

Saya berjalan lagi....tak lama kemudian bertemu suami.
Beliau menyadari wajah saya nan manyun, lalu mempertanyakannya..kenapa sih cemberut terus dar ?? saya menjawab dengan ngedumel-dumel tak karuan...suami pun ngedumel-dumel tidak jelas.
Kami menggunakan bahasa planet, mengerti atau tidak hanya Cikuray yang tau...eaaaaaa !!!

Saya menyimpulkan...suami mengerti (anggap saja mengerti, dan harus mengerti), karena setelah itu beliau mulai gagah perkasa bagai panglima perang berkulkas 4 pintu setia mendampingi saya...melupakan hobi barunya.

Memasuki Tanjakan Cihuy, kami berhenti....melongo menatap trek.
Sangat jelas terlihat trek sangat licin tanpa celah bersangga, dan pasti akan terjadi adegan gedebag gedebug gubrak jatuh terpeleset.
Suami menyarankan saya untuk melakukan atraksi perosotan saja melewati trek menurun di Tanjakan Cihuy...dia memang paling mengerti keinginan saya yang selalu ingin ngesot berperosotan.

Awalnya saya senang akan melakukan atraksi perosotan tersebut....tapi setelah di pikir-pikir treknya kan bergelombang-gelombang...bisa-bisa sampai Pos 1 (maaf) pantat saya berubah bentuk jadi menyan menyon manyun...arggghhhhh, NO NO NO !!
Dan di turunan Tanjakan Cihuy ini juga lah Mas Ade dengan syahdu nya terpeleset mengelundung-gelundung bagai bola bekel nan imut-imut manjah...glundung..glundung..syantiikkk..OMG.

Lanjut...
Setelah berpikir panjang...paaaanjaaaaannnnnggg daaann laaamaaaaaaa..itulah coki coki !! (bukan iklan kampanye terselubung), celingak celinguk kanan kiri atas bawah depan belakang...kami menemukan jalan setapak yang didominasi tanah dan rumput di sebelah kiri Tanjakan Cihuy...horaaayyyy. *eiitttttsss jangan senang dulu.

Berjalanlah kami dengan hati-hati.....tapi tetap saja terpeleset..haduhhhh haduhhhh haduhhh.
Mau lewat manapun dalam keadaan hujan begini ternyata tetap sengsara..licin semua.

Tak lama kemudian kami sampai di Pos 1 dengan riang gembira....Denny sudah menunggu dengan wajah cengar cengir seperti kuda poni di sebuah warung dekat Pos 1.

Kami ngopi-ngopi, makan dan saya mandi di warung tersebut.
Brrrrrrrr...dinginnya minta ampun, tapi segar banget rasanya sesudah mandi.

Satu jam kemudian, ketika saya mandi, pasangan asoy geboy sampai di Pos 1 dan langsung meneruskan perjalanan ke bawah berdua...cieeeee...cieeee πŸ‘«.
Saya, Suami dan Denny menyusul setelah saya selesai mandi.

Di Pos 1 kami melapor bahwa sudah sampai dengan selamat dan memberikan trash bag isi sampah.
Lalu melanjutkan perjalanan...dengan kondisi masih hujan tiada henti sejak awal perjalanan turun dari Pos 5.





Lagi asik-asiknya jalan, tiba-tiba pasangan asoy geboy muncul di depan dari sebelah kanan perkebunan teh.
Ada apa gerangan ?? ada apa dengan cinta ?? kenapa mereka muncul dari kanan ??
Usut punya usut ternyata mereka mengikuti pendaki lain ketika turun...dan nyasarrrr !!! Bagussss πŸ˜‚.
Ini baru elit...kompak nyasarnya ! πŸ˜›.

Sekitar maghrib kami sampai dengan selamat di Stasiun Pemancar.
Saya istirahat dan menunggu suami, Mba Wisma, Mas Ade dan Denny mandi.

Karena mobil losbak kloter pertama setelah maghrib sudah penuh, kami ditawarkan menggunakan mobil yang jauh lebih layak daripada mobil losbak agar para lelaki tangguh tidak kehujanan.
Dengan ongkos Rp. 50.000,-/orang (lebih mahal 5000 dibanding mobil losbak), kami langsung meng iya kan....lumayanlah naik mobil grandmax atau entahlah mobil apa itu saya lupa....hanya berlima saja di mobil, lebih nyaman tentunya.

Mobil losbak kloter pertama setelah maghrib yang sudah penuh

Mobil yang kami tumpangi menuju Terminal Garut

Satu jam setengah kemudian kami sampai di Terminal Guntur, mengisi perut di sebuah warung bersama-sama.
Lalu menunggu bis tujuan masing-masing.
Seorang pemuda menawarkan kami untuk menaiki mobil carry (angkot gelap isitilahnya sih) menuju Cileunyi, kami langsung setuju saja karena menunggu bis masih lama.

Kami berpamitan pada gank Serang, ada rasa senang, sedih dan haru berpisah dengan mereka.
Perjalanan yang tidak akan terlupakan, dimana saya dan suami dengan gank Serang yang sejatinya bukan teman apalagi saudara, dan tidak pernah bertemu sebelumnya, namun bisa bersama-sama berjuang susah senang dalam pendakian layaknya saudara sendiri.

Terimakasih banyak Mba Wisma, Mas Ade dan Denny atas kebersamaan yang indah (walaupun tersiksa di trek Cikuray πŸ˜‚), semoga lain waktu kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi, nanjak bareng dalam suka duka bersama lagi, entah gunung yang mana...entah di kesempatan yang seperti apa...Miss u so much all πŸ˜—.

Saya berhasil lagi menaklukan diri sendiri, berperang melawan diri sendiri dalam setiap pendakian, karena saya pada dasarnya orang yang tidak kuat kedinginan dan kepanasan (kedinginan membuat saya sakit/alergi, kepanasan membuat saya eungap/sesak dan gelisah).
Suatu keberhasilan terjadi jika kita mau mencoba, pantang menyerah dan mau bersabar, karena Allah lebih tau yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

Alhamdulillah saya sampai dirumah tanpa kurang satu apapun.
Entah karena pengaruh trek Cikuray yang ekstrim, atau karena dalam sebulan saya muncak 3x...paha dan betis pegelnya tidak hilang-hilang dalam seminggu, susah gerak.
Modus banget nyalahin trek dan muncak 3x...padahal emang udah tuwir, inget umur donk deh ! πŸ˜‚
Cikuray T O P  B G T  deh, mantap treknya kecil-kecil benar cabe rawit πŸ’”.



Tim asoy geboy





Artikel lainnya (KLIK) :

Traveler (Mountain Climbing) :


Tours (Traveling, Camping, Hiking) :
⏩ Wisata Religi ke Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon

Kuliner :
⏩ Kuliner Bandung : Kedai MeHek, maknyus harga bersahabat !!


Info :
⏩ 6 Tips Aman Persiapan Mendaki untuk Pemula dan Bukan Pemula
⏩ Fenomena Pendaki Kertas di Puncak Gunung 
⏩ Kisah Mistis Saat Pendakian Gunung
⏩ In Memoriam, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (Bpk. Arief Agustianto)


http://adventuresenja.blogspot.co.id/p/contact.html

http://adventuresenja.blogspot.co.id/p/about.html



Subscribe to receive free email updates:

14 Responses to "Pendakian Gunung Cikuray via Pemancar (Kecil-kecil cabe rawit)"

  1. duh...lelet banget yak gw :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru sy salut mba..dgn body yg aduhai seksoy geboy mba kuat bingitsss..hebat...prokk prokkk prokkkk :)

      Delete
    2. Rojer, rojer... Kijang Satu kepada Kijang Dua, Kijang Tiga kegencet gitu ganti, krekkkk!!!....

      Delete
    3. rojer rojer..apakah kijang kegencet masih jlimet komen disini..ganti..weksss

      Delete
    4. Jadiin yuklaaaah april ke gede,,,jumpa pens ama blogger idola hahaha....

      Delete
  2. Kayak kenal sama pasangnan asoy geboy mb wisma sama mas ade wkwk :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapa sih yg ga kenal pasangan asoy geboy nan terkenal seantoro jagat.. :D

      Delete
  3. Replies
    1. Antara 8-12 jam teh...tergantung kecepatan langkah dan lamanya istirahat.

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Open Trip Mt.Ciremai 3078 Mdpl via Apuy
    30 September - 1 Oktober 2017

    Nikmati eksotisme keindahan Puncak Gunung Ciremai, gunung berapi tertinggi di Jawa Barat dengan sensasi petualangan bersama teman-teman baru...Bergabunglah dengan kami sebelum kehabisan kuota !!
    Idr. 250k
    (booking fee minimal 125k, sisa dibayar H-7)

    Meeting Point : Terminal Maja
    *Untuk peserta dari luar kota, Meeting Point bisa dikondisikan di Kota Cirebon menuju Terminal Maja dan diantar kembali ke Kota Cirebon setelah pendakian, dengan menambah biaya transport.

    INCLUDE :
    - Transportasi Terminal Maja - Basecamp Apuy (pp)
    - Simaksi + Sertifikat + Asuransi TNGC
    - Tenda
    - Alat Masak (bersama)
    - Guide + Porter team
    - P3K
    - Makan 4x
    - Doorprize + Souvenir + Dokumentasi

    EXCLUDE :
    - Logistik pribadi & Cemilan.
    - Carrier
    - SB
    - Matras
    - Headlamp/Senter
    - Piring, Gelas, Sendok
    - Obat-obatan pribadi
    - Dll

    Contact Person
    WA : 081322124149
    IG : @cirebonoutdoor
    FB : Cirebon Outdoor
    https://crb-outdoor.blogspot.co.id/

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Share Cost Gunung Sindoro via Kledung, 11-12 November 2017

    Pelaksanaan : 11-12 November 2017

    Meeting Point : Cirebon atau Basecamp Sindoro.

    *Untuk yang meeting point di Cirebon, menuju Basecamp Sindoro menggunakan kendaraan pribadi motor/mobil, biaya bensin dari pribadi/patungan (tidak termasuk dalam include).

    *Untuk yang dari luar kota Cirebon meeting point nya di Basecamp Sindoro, biaya transportasi pribadi (tidak termasuk dalam include).

    Idr. 200.000,-
    (booking fee minimal 100k, sisa dibayar H-7)

    INCLUDE :
    - Simaksi
    - Logistik (Makan 4x) + Air
    - Ojek dari Basecamp ke Pos 1 PP
    - Perlengkapan Camp / Climb Bersama (tenda, matras, flysheet, terpal, trash bag, tali webing, carabiner, dll)
    - Alat Masak (kompor, nesting, gas, dll)
    - Team Leader / Porter Team (membawa perlengkapan camp/climb, alat masak, logistik, air, dll)
    - P3K


    EXCLUDE (Perlengkapan Pribadi) :
    - Sepatu Outdoor (Wajib)
    - Carrier/Daypack (Wajib)
    - Sleeping bag (Wajib)
    - Matras (Wajib)
    - Jaket Gunung (Wajib)
    - Pakaian Ganti (Wajib)
    - Senter/ HeadLamp (Wajib)
    - Masker / Buff (Wajib)
    - Jas Hujan / Ponco (Wajib)
    - Kupluk / Topi / Slayer (Wajib)
    - Sarung Tangan & Kaos Kaki (Wajib)
    - Alat makan seperlunya (Piring, gelas, sendok, pisau dll) (Wajib)
    - Botol Minum (Wajib)
    - Obat-obatan Pribadi (Wajib)
    - Tissue (Wajib)
    - Baterai Cadangan (Wajib)
    - Trash bag sedang (Wajib)
    - Treking Pole (Optional)
    - Patungan Bensin (Mepo Cirebon) / Transport menuju Basecamp (Mepo Basecamp).
    - Makanan, minuman, cemilan pribadi (Logistik Pribadi)

    Contact Person
    WA : 087822794244

    IG : @cirebonoutdoor
    FB : Cirebon Outdoor

    Ket lengkap : https://crb-outdoor.blogspot.co.id/2017/10/share-cost-gunung-sindoro-via-kledung.html

    ReplyDelete