In Memoriam, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (Bpk. Arief Agustianto)


Artikel ini saya buat tanggal 24 Maret 2018, malam hari setelah saya berkunjung kerumah pahlawan tanpa tanda jasa, karena beliau sakit.

Namun karena keterbatasan waktu dan saya belum menemukan foto-foto masa SMA bersama beliau dan teman-teman (karena album foto ada dirumah orangtua saya di Bandung), tulisan ini sempat beberapa minggu tersimpan di draft hingga akhirnya kini saya buka kembali karena tokoh utama yang ada dalam artikel ini pergi meninggalkan duka yang mendalam.

Sejatinya, artikel ini saya buat khusus untuk beliau, guru favorite saya sepanjang masa, dan berharap setelah menyelesaikan artikel ini akan saya persembahkan untuk beliau agar beliau dapat melihat dan membacanya.
Namun Allah berkehendak lain, sebelum artikel ini selesai beliau sudah meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya..Peace in Heaven.


(Me)
TPU Kemlaten Cirebon



Malam Minggu, 24 Maret 2018

Satu pelajaran yang didapat, bagaimana seorang suami istri saling mencintai tanpa syarat.
Dan itu saya lihat jelas ketika berkunjung kerumah guru SMA saya, Pak Arief dan Bu Fifi.
Pasangan suami istri,  keduanya adalah guru favorit saya saat SMA, Pak Arief guru Tata Negara, dan Bu Fifi guru Bahasa Inggris, mengajar di sekolah yang sama.

Keduanya guru yang benar-benar enjoy namun sangat serius mengajarkan para muridnya, dan entah mengapa semua yang diajarkan beliau langsung masuk ke otak saya.
Dan saya adalah murid yang paling sering berdiskusi hingga berdebat panjang dengan beliau saat pelajaran Tata Negara.
Saya pun termasuk siswa yang tidak pernah ditunjuk oleh Bu Fifi jika beliau mengajukan pertanyaan (karena menurut beliau yang tidak ditunjuk tandanya sudah pintar), beliau hanya menunjuk pada murid yang belum/tidak pintar saja....ahhh ibu, saya tuh suka kesal sudah semangat-semangat 45 mengacungkan tangan tapi tidak pernah ditunjuk..haha.

Sayangnya setelah sekian lama tak berjumpa, saya harus melihat kenyataan jika Pak Arief yang dulu sehat, tegas, gagah berani, cekatan, dan doyan besendagurau ini sekarang dalam keadaan sakit lemah tak berdaya.

Saya dan para sahabat (Astuti, Meiske, dan Aeni) serta dua anak saya dan satu anak Astuti mengunjungi beliau karena melihat status Facebook seorang teman yang memperlihatkan Pak Arief dalam keadaan sakit.


http://www.javashe.com/2018/04/meizitang-slimming-capsule-original-bpom.html


Saat kami datang beliau tidak bisa langsung mengenali kami dikarenakan kini kami berhijab..pangling katanya.
Namun beliau bisa dengan santai bercerita dan becanda walau sesekali diselingi rasa menahan sakit.

Saat lagi ngobrol santai Pak Arief tiba-tiba merasa dadanya kesakitan, terus terang saya dan teman-teman sempat shock melihat keadaannya yang tak berdaya itu, karena melihat nafas beliau sangat berat dan tanpa daya menahan sakit, dengan cekatan sang istri mengelus-ngelus dadanya penuh kasih sayang.
Kami sempat menawarkan untuk mengantar ke rumah sakit, namun beliau tidak mau.

Dalam keadaan lemas Pak Arief masih sempat menatap lama Bu Fifi dalam-dalam penuh rasa cinta, dan berkata pelan pada sang istri : Tengkyu ya/yang.. ujarnya lirih penuh perasaan (saya kurang mendengar jelas apakah ya atau yang), seketika itu saya sangat terharu biru dan baper tiada tara...so sweet bangeuuddd...euhhhh.
Sosok guru yg tidak pernah berubah..selalu harmonis, dulu menjadi panutan hingga sekarang.
Tak lama kemudian beliau merasa baikan, melanjutkan obrolan santai kembali.

Pak Arief dan Bu Fifi
saat saya berkunjung 

Terlihat jelas, beliau sangat menghargai kedatangan kami dan sedaya upaya ingin terlihat sehat, sehingga dalam kesakitannya pun masih ingin bercerita panjang lebar.
Padahal berkali-kali kami sudah memintanya beristirahat, namun beliau masih ingin terus berbincang dengan kami.

Tiba-tiba beliau menatap sangat lama pada saya (dan tatapan itu masih teringat sampai sekarang), lalu berkata :
- Desi ? Desi...Oekon ?! Saya sudah lama ingin menghubungi kamu des, ada hal.....urusan belum tuntas yang ingin saya sampaikan (beliau berhenti bicara menahan sakit lagi), saya salut sama kamu des, saya liat di facebook kamu masih mendaki sampai sekarang..hebat !!.. etc.

Lalu saya berkata pada beliau..
- Kan berkat bapak..bapak kan tau dulu waktu mendaki via Linggarjati saya tidak diijinkan orang tua ikut karena tidak ada surat ijin dari sekolah, saya nangis dikamar tiga hari tiga malam tuh pak..

Disaat akan melanjutkan berbicara, beliau merasakan sakit lagi.
Masih dalam keadaan nafas yang berat, beliau melanjutkan kembali..
- Kamu tau Cibuntu des ?
- Tau pak, tapi saya belum pernah kesana, mau survei kesana tapi tidak jadi karena cuaca, kenapa pak ?
- Saya berencana mengambil tempat disana des, mengontrak di tempat itu, ingin menenangkan diri, udaranya masih bersih, saya ingin tinggal disana mungkin setahun, mau tinggal disana apakah sendiri atau ada yang menemani saya, atau ditemani istri atau tidak, tidak masalah karena istri saya kerja, saya sudah pasrah... etc.

Beliau bicara panjang lebar yang tidak bisa saya jabarkan disini karena kalimatnya sudah mulai terbata-bata menahan sakit...membuat saya tidak bisa paham sepenuhnya yang beliau katakan.
Saya berusaha mencermati setiap kata demi kata yang beliau ucapkan dari awal hingga akhir apakah saling berhubungan atau tidak ?
Dari mengatakan sudah lama ingin menghubungi saya.., salut saya masih mendaki.., hingga keinginannya ingin tinggal di Cibuntu..etc.

Lalu apa yang jadi keinginannya pada saya yang belum tuntas itu ?
Ingin bekerjasama kah ? Inginkan mendaki kah ? Ingin diantar atau ditemani ke Cibuntu kah ? Atau apa ? Wallahu A'lam.





Saya sudah tak sempat bertanya lagi karena beliau meminta ijin kekamar untuk tidur.
Dari luar kamar berkali-kali saya perhatikan beliau berusaha menahan sakit, rasanya tak tega harus melihat beliau tersiksa seperti itu.
Dan akhirnya saya dan teman-teman berpamitan pulang pada Bu Fifi.

Sepanjang jalan di mobil hingga sampai rumah saya masih memikirkan keadaan Pak Arief, bahkan kesulitan tidur, tidak tenang memikirkan yang beliau ucapkan, hingga akhirnya memutuskan menulis artikel ini.

Ada sedikit beban hutang dalam benak saya tentang yang beliau utarakan, namun saya tidak tau apa yang beliau maksudkan.
Seketika saya juga membayangkan bagaimana lincah, tegas, dan cekatannya beliau walau memiliki postur tubuh yang tinggi besar selalu mempunyai semangat membara saat SMA dulu, namun kini dalam keadaan yang lemah rasanya sedih sekali melihatnya.

Flashback.
Saya menerawang, mengingat kejadian waktu SMA dulu.

Beliau bukan saja mendidik saya dikelas, namun membina dalam kegiatan OSIS dan ekstrakurikuler  hingga bisa menjadikan saya seorang yang berani dan bertanggungjawab.
Hal yang masih sangat saya ingat dan selalu saya ceritakan pada orang-orang terdekat hingga saat ini.

Saat itu sedang acara camping pelantikan siswa baru.
Saya sebagai kakak kelas, yang pada waktu itu aktif di OSIS (menjadi bendahara) dan kegiatan Pecinta Alam (menjadi wakil ketua teamsar, dan saya satu-satunya perempuan di teamsar) otomatis menjadi panitianya.

Pada acara jurit malam, dikabarkan ada adik kelas yang tidak sampai di pos berikutnya (hilang), kami panik.
Pak Arief langsung mengumpulkan beberapa panitia laki-laki dan perempuannya hanya saya.
Dengan cekatan beliau langsung menunjuk ke segala arah, A dan B kesana ! B dan C kesitu ! Kamu dengan saya kesini ! Desi kesana !! (Whattttttttttttsss !!! OMG).

Kata-kata terakhir : Desi kesana !!  artinya saya kesana sendirian !!??
Dan saya satu-satunya perempuan yang harus sendirian malam-malam menyusuri daerah pegunungan mencari adik kelas yang hilang ! Sedangkan yang laki-laki berdua ?? Arghhhh.
Tapi pada saat itu saya tidak memikirkan masalah diatas, begitu ditunjuk mau tidak mau harus kesana !! Langsung saya kerjakan dengan cepat sambil sedikit berlari dalam gelap ditemani senter seorang diri.
 Beberapakali saya merasa takut, namun lebih banyak beraninya karena memikirkan nasib adik kelas yang hilang mengalahkan rasa takut saya.

Alhamdulillah..singkat kata sang adik kelas ketemu sehat selamat, namun keesokan harinya semua panitia dimarahi habis-habisan serta disuguhkan PLAKKKKK !!! PLAKKKKK !!!
Tamparan manis nan mempesona mendarat dipipi kami hingga terlihat imut merah merona layaknya memakai blush on..cwiwwwww.
Hukuman akibat kelalaian yang pantas kami terima.
Dan kami dengan ikhlas suka rela menerimanya.
Hal tersebutlah yang membuat saya berpikir untuk sebuah tanggungjawab, dan keberanian bertindak dalam keadaan apapun.

(Artikel aslinya terhenti sampai disini, karena keterbatasan waktu dan foto masa SMA ada dirumah orang tua, sehingga belum sempat saya tuntaskan ceritanya).


Dan tulisan dibawah ini saya buat setelah mendengar kabar kalau beliau meninggal dunia.


Minggu, 15 April 2018

Saya main kerumah Astuti.
Disaat sedang ngobrol santai, tiba-tiba ada perasaan tak enak (firasat) yang membuat saya menanyakan keadaan Pak Arief (karena beberapa hari lalu kami dengar beliau masuk rumah sakit, namun kami belum sempat menjenguk).
- Ceu...Pak Arief udah pulang dari rumah sakit ?
- Udah ceu..

Beberapa saat setelah itu kami mendapat kabar kalau Pak Arief masuk ruang ICU, dan kami merencanakan besok akan menjenguk beliau.
Menjelang magrib saya pulang kerumah.
Dan dirumah saya minta ijin pada suami untuk bisa menjenguk Pak Arief besok..suami mengijinkan.

Setelah adzan isya saya pergi lagi bersama anak-anak kerumah Astuti untuk menitipkan sesuatu dirumahnya.
Setelah ngobrol ngalor ngidul dirumah Astuti saya pamit pulang.

Baru sekitar 100-200 meter meninggalkan rumah Astuti, HP berbunyi..
Karena saya sedang mengemudi motor, saya meminta anak yang menjawab.
Mah dari tante tuti (Astuti)...katanya Pak Arief meninggal !! Ucapan itu keluar dari mulut anak saya.

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun....
Sejenak saya memejamkan mata yang seketika berkaca-kaca dan merasa lemas.
Kecepatan motor saya percepat, ingin rasanya segera sampai rumah untuk bisa menghubungi Astuti, Meiske, dan Aeni.

(Setelah beres merencanakan melayat dengan Astuti, dan juga Meiske, Aeni...saya membuka kembali artikel ini kembali).


Senin, 16 April 2018

Rumah duka sangat penuh dengan pelayat, kebanyakan para murid dari berbagai angkatan, rekan-rekan guru, sahabat, handai taulan, dan kerabat.

Keranda tampak dibawa menuju ambulance, saya melihat bu Fifi sangat tabah menghadapi kehilangan orang yang paling dicintainya.
Namun wajahnya terlihat jelas letih, sembab, dan merasakan duka yang teramat dalam.
Begitupun saya dan teman-teman dari semua angkatan..kami kehilangan sosok guru tauladan yang friendly dan sangat perhatian.



Jenazah Pak Arief dibawa ambulance menuju TPU Kemlaten
 


Ditempat peristirahatan terakhir, begitu banyak yang mengantar kepergiannya..dalam rasa duka dan kehilangan.

Kami kehilangan seorang guru yang bisa menjadi sahabat sekaligus orangtua, seorang sutradara, pemusik, penulis dan masih banyak lagi bidang yang beliau geluti karena kecerdasan dan pemikirannya yang sangat luas.

Tak ada lagi beban dihati saya untuk memahami yang beliau utarakan, Allah lebih sayang pada beliau dengan memberinya tempat yang tenang dan sangat indah disisi Alah SWT... jauh lebih tenang dan lebih indah dari Cibuntu.


Tempat peristirahatan terakhir Pak Arief, TPU Kemlaten Cirebon




Terimakasih guruku..atas segala pembelajaran yang telah engkau berikan pada kami semua.

Terimakasih..untuk semua perhatian, kasih sayang, dan dedikasi yang telah engkau persembahkan semasa hidup.


Selamat jalan guruku...tauladanmu akan selalu dikenang sepanjang masa.

Selamat jalan...semua amal ibadah dan kebaikanmu akan menjadi penerang kubur dan bekal menuju surga.


 اللَّهُمَّ اغْفِرْ له وَارْحَمْها وَعَافِها وَاعْفُ عَنْه وَأَكْرِمْ نُزُلَه وَوَسِّعْ مُدْخَلَه وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّه مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْه دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِه وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِه وَأَدْخِلْه الْجَنَّةَ وَأَعِذْها مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
ِ
“Ya Allah! Ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia, maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), pasangan yang lebih baik daripada pasangannya (di dunia), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka”


Selamat jalan...Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Alm. Bpk Arief Agustianto








Pak Arief, Bu Fifi dan Anak-anak tercinta


Photo by Arief Agustianto on Facebook


Kami berduka, kami kehilangan..namun kami tahu Bapak tidak suka jika kami larut dalam kesedihan,
doa dan senyum ini kami persembahkan untuk Bapak, mengiringi langkah Bapak menuju Surga.


Untuk semua guru yang ada didunia ini, pahlawan tanpa tanda jasa.
Terimakasih atas pengabdiannya, dan tetap semangat !!!




Artikel Lainnya :

Traveler (Mountain Climbing) :
⏩ Gunung Ciremai via Palutungan (Pendakian dadakan yang bikin nyesek jempol kaki)
⏩ Gunung Ciremai via Apuy (Jalur Ciremai paling pendek yang aduhai)


http://adventuresenja.blogspot.co.id/p/contact.html

http://adventuresenja.blogspot.co.id/p/about.html

Subscribe to receive free email updates:

12 Responses to "In Memoriam, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (Bpk. Arief Agustianto)"

  1. Selamat jln bapak,, semoga tenang di alam sana

    ReplyDelete
  2. Aminnnn...aminnnn YRA, makasih banyak doanya mas Idris.

    ReplyDelete
  3. Gua bingung mau komen apa ? Masalah nya gua teringat masa lalu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga usah bingung2 mas..tatap saja masa depan biar ga teringat masa lalu..hehe

      Delete
  4. Saya jadi ikut baper nih, Jadi inget guru-guru saya yang dulu dengan sabar mendidik saya.
    Ingin berkunjung tapi jarak dan waktu sudah begitu terlalu jauh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas..begitupula dengan sy, padahal masih satu kota tapi ga pernah ketemu dgn pak Arief karena kesibukan masing2, pas ketemu beliau lagi sakit.
      Semoga para guru kita sll dilindungi oleh Allah SWT...aminnnnn.

      Delete
  5. Semoga pak arif khusnul khatimah yaa.... Aamiin
    Dan semoga beliau juga menginspirasi guru2 masa kini, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnnnn...aminnnn YRA, makasih banyak doanya.
      InsyaAllah menginspirasi...Sukses sll buat mba Ella :)

      Delete
  6. Al Fatihah untuk arwah..

    moga Allah SWT kurniakan tempat arwah bersama orang-oramg yang beriman dan beramal salih..

    aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnnn...aminnn YRA.
      Terimakasih untuk doanya bang.

      Delete
  7. Kalau baca artikel sebelumnya tentang kejadian mistis di gunung, lengan saya yang merinding.....baca artikel ini hati saya yang deg-degan.

    Teringat dengan guru bahasa Inggris saya di SMA, yang juga ibu saya hehe. Bukan hanya bahasa Inggris yang diajar, tapi juga kehidupan (baik di kelas maupun--apalagi--di rumah).

    Teringat bagaimana umik (sebutan ibu saya) pernah difitnah 'berkasih sayang palsu terhadpa muridnya', padahal saya tahu benar bagaimana prinsip umik terhadap murid2nya, yaitu menjadi orangtua mereka ketika di sekolah. Naudzubillahi min dzaalik.

    Dengan cerita ini saya bisa menilai, berarti pak Arief adalah orang yang baik, hingga muridnya dari segala angkatan takziah. Semoga segala amalnya diterima Allah, dan pahala ilmunya terus mengalir melalui murid2nya, amin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnn YRA.

      Biarlah orang berkata apa, yang penting Allah maha mengetahui segala niat baik umik mba..krn org baik itu banyak ujiannya, Allah sangat sayang pada umik :)

      Delete