Pendakian Gunung Ciremai via Palutungan (Setelah cuti mendaki selama 1 tahun)


Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat, dengan ketinggian 3078 Mdpl (meter di atas permukaan laut).
Jalur pendakian via Palutungan berada di kabupaten Kuningan - Jawa Barat, merupakan jalur terpanjang dibanding dua jalur lainnya (Linggarjati & Apuy).

Rute dan transportasi menuju Palutungan bisa dilihat dari foto yang akan saya lampirkan dibawah setelah foto di basecamp Palutungan (silakan cari sendiri fotonya,,,hahaha).


Puncak 3078 Mdpl






Baiklah, curcol sejenak...
Genap setahun saya dan suami tidak mendaki, biasanya dalam satu bulan bisa beberapakali kami mendaki.
Apa rasanya tidak mendaki setahun ? seluruh tubuh terasa sakit-sakit tidak karuan, terkadang saya merasakan sakit ditelapak kaki hingga tak kuat ingin menangis yang akhirnya menghebohkan jagat raya ini (lebay), dalam hal ini si bungsu jadi korban untuk memijat kaki saya...maafkan ibumu ini nak !!

Banyak alasan yang membuat saya dan suami cuti dari pendakian.
Dari akhir tahun 2017 disibukkan dengan urusan tiga anak kami (anak kedua, ketiga, keempat) yang menghadapi Ujian Nasional, setelahnya pusing urusan mencari sekolah, PPDB, mendaftar sekolah,  penerimaan siswa baru, wara-wiri urus seragam, buku, rapat ortu, dll.
(yang punya satu anak menghadapi UN aja udah pusing dan stres, apalagi tiga anak menghadapi UN ya gaes..asikkkk banget deh rasanya).

Cukup sampai disitu ? tentu tidak..kami memutuskan untuk pindah rumah, kesana kemari mencari rumah yang cocok.
Setelah dapat rumah, urusan notaris, renovasi, packing, pindahan, beres-beres menata rumah yang butuh waktu tidak sebentar membuat kami benar-benar tak punya waktu untuk memikirkan pendakian.

Sudah selesai urusan kami kah ?? Oh tentu tidak, anak pertama kami menginjak kelas 3 SMA, dan harus mempersiapkan biaya, pemantapan, serta Ujian Nasionalnya....endolllllllll bingitsssss rasanya hidup iniiiihhhh dengan empat anak gaesssss...wowwwww...wowwww..wowwww..pengen nangis guling-guling dipantai rasanyahhhh.
But...ya sutra lah, semua kami nikmati dan jalani saja, mengalir bagai air dimusim kemarau...keriiiinnnggg keleusss !!

Dan satu lagi, karena memiliki adik di Bandung yang super sibuk, saya dan suami "menculik" anak adik saya nan lucu yang berumur 1 tahun dan membawanya kerumah untuk kami asuh..sebut saja dia bayi kepo.
Dia memang sangat kepo, siapa saja yan pegang hp pasti dikepoin, dan siapa saja yang sedang santai pasti dikepoin..masuk kamar dikepoin..kepoooo.
Si bayi kepo sudah seperti anak sendiri, suatu hari kami pulangkan ke Bandung, ketika kami tinggalkan besoknya langsung sakit panas dan susah makan...setiap kami video call bayi kepo memasang wajah memelas menderita serta nangis-nangis..kalau sudah bisa bicara mungkin dia akan berkata : Sungguh teganya dirimu teganya teganya teganya teganyaaaaa...(Meggi Z - Senyum Membawa Luka).
Alhasil...kami kembali ke Bandung menculiknya lagi.
So..dengan banyak anak hidup ini serasa orang paling sibuk sedunia..wawwww.

Dan sepanjang tahun 2018 ini anak-anak hasil download (baca : anak-anak pendaki yang sudah kami anggap anak sendiri) sudah wak wek wok seperti bebek kelaparan mengajak kami silih berganti untuk mendaki...sorry ya nak, emak bapak lagi sibuk berat, maklum kita mah gitu orangnya !!

Hingga akhirnya.. tak tahan sudah rasa sakit-sakit ditubuh menerpa saya dan suami.
Tiba-tiba suami muncul dipintu kamar dengan wajah bagaikan mentari terbenam tertutup mendung kelabu (silakan bayangkan sendiri) mengajak mendaki secepatnya hanya berdua saja, mendaki suka-suka, bisa muncak syukur, ga bisa muncak ya sudah (yang penting sakit dibadan ini bisa hilang).

Tapi setelah dipikir-pikir, daripada nanti anak-anak hasil download komplain tidak diajak mendaki, akhirnya kami menawarkan beberapa orang barangkali mau ikut serta..ikut syukur ga ikutpun syukur..hahahaha.

Setelah terjadi diskusi nan panjang...diputuskan tanggal 30 November 2018 kami mendaki bertujuh, saya, suami, Opi, Dadung, Tiara, Ade, Don.

Inilah penampakan kami yang super keren..kwkw


Pendakian suka-suka ini yang tadinya "muncak syukur gak muncak ya sudah" jadi berubah dari rencana awal.
Lima orang yang turut serta ternyata punya sejarah berbeda-beda yang membuat saya dan suami memutuskan untuk bisa sampai puncak semua bersama kami.

- Opi, belum pernah mendaki via Palutungan dengan kami (dua kali mendaki dengan Opi via Apuy terus).
- Dadung, belum pernah mendaki via Palutungan dengan kami (Dua kali juga mendaki dengan kami via Apuy dan Gunung Sumbing).
- Tiara, belum pernah mendaki bersama kami (beberapa kali ngecamp dengan Tiara, akhirnya kesampean juga kita muncak bareng ya ra..)
- Ade, ini adalah pendakian perdananya, belum pernah mendaki dengan siapapun :D
- Don, belum pernah mendaki bersama kami.
(Ade dan Don sering main kerumah kami, dan baru kali ini mendaki bareng mereka).

Kendala utamanya adalah..pendakian ini dadakan dan prepare perlengkapan sangat kurang karena kesibukan saya dan masih sebagian barang ada dirumah lama, termasuk tidak adanya tali dan alas sepatu bagian dalam milik saya.
Mau ngambil..lupa, ya sudah lah, saya pasrah menggunakan sepatu tanpa alasnya, sedangkan tali sepatu saya ambil dari sepatu gunung milik suami.

Dan, ini adalah pendakian pertama saya menggunakan hijab (Alhamdulillah), sehingga saya merengek pada suami minta dibelikan hijab yang baru agar nyaman saat pendakian...bebbbb beliin hijab traveling atuh !!
Secara sejak berhijab diawal tahun 2018 saya sudah wanti-wanti hanya mau mendaki lagi kalau dibeliin hijab baru, hijab traveling !!
Yesssss !! setelah milih sana sini dibeliin tiga hijab !! (dan kenyataannya saya tidak memilih hijab traveling..haha)..tengkyuuuu cintahhhhh.

But...setelah ngaca berhari-hari pakai hijab baru, saya putuskan tidak memakai hijab pemberian suami...whyyyyyyy ???? Aduhhhh, hijabnya ciamik banget, lebih cocok saya pakai nanti saat di gunung Prau ala-ala foto model !! ahahaha.
(Prau oh Prau..semoga terlaksana bisa kesana).


Finally..cape banget gue ngetik curcol artikel ini..kwkwk.
Kita mulai cerita tentang pendakiannya.

Kami bertujuh dengan suka cita menuju basecamp Palutungan setelah magrib menggunakan satu mobil dan satu motor.
Sesampainya disana menghubungi sahabat kami Oman, untuk membantu registrasi dan mengantar ke Buper Ipukan, serta menitipkan kendaraan, tengkyu so much A Oman yang selalu baik hati, bijaksana, tidak sombong, rajin mengaji, rajin membaca, rajin futsal, rajin ngurus sapi, dan rajin ngambilin mangga dirumah akuuuu !! ahahaha

Registrasi via Palutungan saat ini Rp. 55.000,- sudah termasuk asuransi, sertifikat, dan jatah makan nasi.


Basecamp Palutungan





Ini nih foto rute dan transportasi (zoom aja bro..)

Peta, Rute Transportasi, Pos, dan Perkiraan Jarak & Waktu Pendakian via Palutungan


Jika membutuhkan kendaraan untuk mengantar jemput dari Terminal Bus / Stasiun Kereta Api Cirebon menuju basecamp Palutungan maupun Basecamp Linggarjati dan Apuy silakan hubungi kontak dibawah ini :





Ya...kami memulai pendakian via Palutungan ini seperti yang sudah-sudah, dari Buper Ipukan, bukan dari basecamp.
Lumayan menghemat waktu dan tenaga, karena letak Ipukan ada diatas basecamp.
Kami memulai pendakian sekitar jam 11 malam, dengan cuaca cerah ceria berjalan santai menuju Pos 1 Cigowong.



Warung A Oman di Ipukan


Ketakutan saya yang paling utama adalah tidak kuat nafas dan melangkah, secara sudah setahun tidak mendaki, namun ketakutan itu tidak terbukti, saya bisa berjalan dan bernafas seperti pendakian biasanya, plus semangat membara !! (Yesssss..yessss..ternyata masih strong !!)
Tapi...sepanjang jalan saya berjalan tak jelas rasanya dengan sepatu tanpa alas bagian dalam, sehingga kaki serasa menapak dicetakan kue balok berbentuk kotak-kotak...eaaa..eaaa..eaaa.

Menuju Cigowong adalah jalur paling panjang, perkiraan waktu dari basecamp ke Cigowong adalah 2 jam, dengan trek landai mengesalkan karena panjang dan lama.
Belum setengah perjalanan menuju Cigowong, rasa kantukpun mulai melanda kami semua, kami memutuskan mendirikan flysheet untuk ngopi-ngopi, makan, dan tidur.





Pagi hari kami melanjutkan perjalanan menuju Cigowong.
Tak sabar rasanya ingin sampai di Cigowong karena saya hanya sempat makan segepok roti, sehingga perut tak kuasa lapar sangatttttt saat diperjalanan,
*Catet !! si gue ini sejak kecil selalu diajarkan harus sarapan, jadi kalau pagi-pagi kaga makan alhasil lemah lunglai letihlah hidup ini rasanya..


Otw Cigowong






Pos 1, Cigowong

Jam 11.30 sampai di Cigowong, kami istirahat, memasak nasi, menghangatkan daging rendang (sponsor by ibu notaris yang cantik) dan mengisi air untuk perbekalan dijalan.

Bawa air yang banyak disini ya gaesssss...karena hanya di Cigowong dan Goa Walet (Pos terakhir) adanya mata air, namun jangan mengandalkan di Goa walet, karena belum tentu ada air disana.
Walau sudah memasuki musim hujan, ketika kami akan mengambil air di Goa Walet sangat minim, hanya dapat setengah botol saja.


Pos 1, Cigowong

Warung

Shelter

Mushola


Pos Cigowong adalah tempat yang luas untuk mendirikan tenda, terdapat warung yang menjual aneka minuman, makanan ringan hingga makanan berat, disana terdapat juga Mushola, kamar mandi, dan sungai kecil.
Menuju pos ini bisa juga menggunakan jasa motor trail dengan biaya (katanya) 100.000,- dan turun menuju basecamp pun biayanya sama.
Memang cukup mahal, namun sebanding dengan jauhnya jarak Basecamp ke Cigowong.

Hingga saat ini saya belum mau mencoba karena dengan jarak yang jauh sudah pasti akan memacu adrenalin bertubi-tubi tanpa ampun, lebih baik jalan walau letih tiada tara..ahhhhh anggap saja saya strong, padahal mah mikir 1000x harus bayar 100.000...kwkwkw.

Jam 11.30 kami melanjutkan pendakian menuju Pos 2 Kuta, mulai menanjak tapi masih banyak bonus.

Jalur menuju Pos Kuta




Pos 2, Kuta

20 menit kami sampai ke Kuta, 40 menit kami istirahat di Kuta, pos ini ditandai dengan adanya satu pohon besar, tidak ada lahan untuk mendirikan tenda.
Setelah ngoceh-ngoceh ketawa-ketiwi lalu melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 Pangguyangan Badak.


Pos 2, Kuta




Pada tahap ini saya memutuskan jalan duluan berdua dengan Tiara karena para lelaki masih asik ngopi-ngopi ganteng di pos Kuta.
So...kaki mulai linu karena jalur mulai menanjak tiada ampun dengan pepohonan yang rapat, tapi jangan kuatir masih banyak bonus disini, saya terus bersemangat dengan sepatu bak cetakan kue balok !!

Jalur menuju Pangguyangan Badak




Pos 3, Pangguyangan Badak

50 menit kami sampai di Pos 3, dan bertemu lagi dengan para lelaki, lalu beristirahat hampir setengah jam untuk ngemil-ngemil dan ngopi-ngopi syantikkkkk, cekrak-cekrek sana sini bak foto model rimba..auooooooooo.



Pos 3, Pangguyangan Badak



Jam 13.55 cusssss menuju Pos 4 Arban.
Hiks...hiks....jalur menanjak tiada akhir dengan akar besar disana-sini hampir tidak ada bonus, kalau sudah begini..banyak istirahatlah kami, ditambah bertemu pendaki lainnya berkenalan dan ngobrol-ngobrol semakin lamalah perjalanan ini.


Jalur menuju Pos Arban




Pos 4, Arban

Memakan waktu sekitar satu jam dua puluh menit untuk sampai di Arban.
Tempat ini agak luas, tapi jangan dijadikan opsi untuk mendirikan tenda karena puncak masih jauh dari Arban.

Di Arban...kami pun istirahat syantik lagi sekitar satu jam, kok lama amat ???
Bagaimana tidak lama, hammock kami pasang untuk bersantai, berayun-ayun bagaikan anak TK riang gembira, ngopi-ngopi, ngobrol-ngobrol dan bersenda gurau dengan pendaki lainpun bagai tradisi yang harus dilakukan ditiap pos...lama toh ?? lama kan ?? lama ya ?? lamaaaaa pokoknya mah.

Lalu saya dan suami mengenang saat-saat dulu kami pernah berada di pos Arban, ngecamp disini dan summit attack dari sini...Gubrakkkkk !! bayangkan lamanya, secara masih setengah perjalanan dari Arban ke Puncak.
Hanya orang strong yang mampu summit dari Arban (menghibur diri sendiri, padahal mah saking leletnya kami saat itu sampai di Arban).


Pos 4, Arban



Setelah itu melanjutkan perjalanan berdua Tiara lagi, kali ini karena para lelaki masih sibuk membereskan hammock dan perlengkapan masak, dan kami dengan (sok) polos tanpa dosa pergi meninggalkan mereka melangkah cantik bagai di catwalk..lenggak lenggok lenggak lenggok..bye bye gaessss.

Menuju Pos 5 Tanjakan Asoy dengan trek yang membuat kaki semakin senat-senut, nafas ngos-ngosan.


Jalur menuju  Pos Tanjakan Asoy



Pos 5, Tanjakan Asoy

25 menit kami sampai di Tanjakan Asoy, hari sudah sore menunjukkan pukul 16.45.
Pos ini lumayan luas untuk mendirikan tenda, beberapa pendaki yang sepanjang perjalanan berkenalan dan ngobrol dengan kami mendirikan tenda disini karena sudah letih.
Sedangkan kami, memutuskan untuk terus naik walau gelap segera tiba...pokoknya ngecamp di Pos 6 Pesanggrahan, itu keinginan kami agar tak terlalu jauh ke puncak saat besok summit.

Sambil istirahat saya memandang keatas si Tanjakan Asoy, membayangkan treknya yang bakal bikin kaki dan nafas meliuk-liuk dramatis...hiks..hiks.
Setelah kaum lelaki tiba, seperti biasa tradisi selalu terulang kembali..istirahat satu jam disini gaessss.


Pos 5, Tanjakan Asoy


Maka..setelah puas istirahat, mulailah kami berjalan menuju Pos Pasanggrahan, Ennngggg iiinnngggg eeeennnggggg...sesuai namanya Tanjakan Asoy....asoy geboy banget rasanya, trek nanjak dan nanjak tanpa ampun bikin body salto, melintir, jungkir balik, guling-guling (mulai lebay lagi).

Tapi perjalanan ini kami dibawa enjoy, tiada henti bersenda gurau ketawa ketiwi riang gembira..terutama Dadung, entahlah pakai baterai apa dia, sejak awal pendakian tiada hentinya berkicau...cot cot cot..cocoooootttttt terus, ohhh noooo..setelah diselidiki ternyata Dadung pakai genset bukan baterai broooo !! pantesan.


Jalur menuju Pos Pasanggrahan




Pasanggrahan 1

Pada peta pendakian memang tercantum Pos Pasanggrahan, namun pada kenyataannya sebelum kita sampai di Pos Pasanggrahan akan menemui Pasanggrahan 1.
Satu jam kami sampai dari Tanjakan Asoy ke Pasanggrahan 1, area lumayan luas untuk mendirikan tenda, sudah banyak tenda-tenda berdiri dan banyak pendaki-pendaki tampak happy disini menawarkan kami untuk mampir.

Namun karena ada beberapa pendaki membuat api unggun dan banyak asap, mengakibatkan Tiara yang memiliki riwayat Asma mendadak sesak dan sedikit mimisan.
Kami berhenti sejenak untuk menstabilkan keadaan Tiara, setelah normal kembali kami melanjutkan perjalanan.

Sebelum sampai di Pos Pasanggrahan kami menemukan lahan yang bisa digunakan untuk mendirikan sekitar 10 tenda, akhirnya diputuskan kami bermalam ditempat ini dan mendirikan 3 tenda.


Camp



Setelah tenda berdiri saya mulai sibuk memasak, menu andalan yang selalu di request anak hasil download yaitu sayur asem, tempe goreng, ikan dan cumi asin, sambel.
Terus terang, saya tuh sampai bosan masak itu-itu lagi setiap pendakian...hahaha.
Tapi apa daya, emak mah nurut aja sama anak-anaknya, secara emak memang sholehah banget ya...ahiwwwww #thepowerofemakemak.

Setelah kenyang, dan puas bercocot maricot....kamipun tidur bahagia walau kedinginan.
Hanya satu orang yang merasa tidurnya sangat nyenyak dan merasa hangat, dialah pendaki pemula si pemilik sleepingbag baru yang memiliki 3 layer : parasut, polar dan dacron.

Sang pendaki ini barangnya masih fresh baru semua..hayo tebak siapakah dia ??
Yang bisa jawab saya kasih hadiah seperangkat peralatan lengkap mendaki senilai 5.000.000 !!
Jawabannya adalah Ade !!! (maaf coyyy sudah dijawab, hadiah tidak berlaku).
Ishhh dahhhh beli dimana sih perlengkapan mendakinya de ?? Cirebon Outdoor donk !! ahahaha (iklan sejenak).




Sekitar jam 2.30 malam saya sudah mendengar pendaki-pendaki melewati tenda kami, hufftttt rajin banget mereka jam segini sudah summit, sedangkan kami masih sibuk dengan suara ngorok yang bersahut-sahutan dari tenda ke tenda.

Pagi hari kami bangun, sesuai kesepakatan dari awal kami start summit sesantai mungkin.
Saya mulai sibuk memasak..menu pagi ini adalah nasi goreng, telur dadar, tempe goreng.
Setelah perut terisi, sekitar jam 8.15 kami mulai perjalanan menuju puncak.


Before Summit Attact



Pos 6, Pasanggrahan

Hanya beberapa menit saja kami sampai di Pos 6 Pasanggrahan, di pos ini cukup untuk mendirikan beberapa tenda.
Dan pos inilah batas akhir pendaki disarankan mendirikan tenda, karena setelah pos ini sangat tidak disarankan mendirikan tenda berhubung jalur sudah mulai terbuka, jarang pepohonan tinggi, sehingga rawan badai.


Pos 6 Pasanggrahan



Setelah foto-foto sejenak lalu cusssssss..menuju Pos Sanghyang Ropoh.

Dan saya mulai melunglai..
Seperti yang sudah-sudah kelemahan saya adalah pagi hari saat summit, karena perut selalu terserang lapar dan lapar dalam perjalanan pagi.



Jalur menuju Sanghyang Ropoh




Pos 7, Sanghyang Ropoh

Satu jam kami sampai disini, hanya foto-foto sebentar lalu lanjut perjalanan.


Pos Sanghyang Ropoh


Jalur semakin terbuka, sudah sangat jarang pohon tinggi, dan yesssssss....treknya mulai menunjukkan trek favorit saya, batu-batu menanjak..paling suka trek seperti ini, tangan dan kaki bekerja semua secara adil dan merata dalam tempo yang selama-lamanya...ngekkkkkkk.


Jalur menuju Simpang Apuy




Simpang Apuy 

Satu jam sampai di Simpang Apuy.
Disini adalah tempat bertemunya pendaki dari jalur Apuy dan jalur Palutungan.
Hati-hati saat perjalanan turun dijalur ini, jangan sampai salah jalur ya...


Simpang Apuy




Lanjut perjalanan menuju Pos Goa Walet..
Jalur masih sama seperti Simpang Apuy berupa batu-batu kecil, besar hingga batu berbentuk pipih.



Pos 8, Goa walet

Tiga puluh menit perjalanan kami dari Simpang Apuy ke Goa Walet sudah plus istirahat dan tradisi berkenalan, ngobrol-ngobrol, foto-foto dengan pendaki lain.
Saya, Suami, Tiara, Dadung duduk-dudukan disekitar pos ini, Opi, Ade, Don turun kebawah menuju Goa Walet bermaksud mengambil air, namun hanya ada sedikit saja air disana.


Goa Walet




Saat yang dinantikan tiba...satu tahap lagi sampai di puncak.
Antara semangat dan lapar lagi tentunya..menapaki jalur yang terus menanjak tiada bonus.


Flashback
Berhubung saya agak buntu menceritakan perjalanan menuju puncak kali ini (yang pernah baca status whatsapp saya pasti paham,,haha), jadilah saya dan suami mengenang-ngenang saat dulu pertama mendaki berdua dijalur ini..sungguh tragis romantis !!

Suami sangat keletihan saat itu, begitupun saya...namun demi ingin sampai dipuncak saya berjalan dengan sisa-sisa tenaga saat itu, dan suami menyuruh saya jalan duluan agar bisa segera sampai dipuncak.
Saya berjalan sendirian, menggapai satu demi satu bebatuan dengan nafas yang sudah tinggal penghabisan...yeyyyyyy saya sampai puncak bersorak riang gembira sendirian, membuat beberapa pendaki melihat kearah saya, saat itu saya tersadar sedang bersorak seorang diri karena suami masih dibawah...argggggghhhhh isin pisan coyyyyy.
Tak lama kemudian suami muncul dipuncak..langsung berkaca-kaca memeluk saya erat-erat, so sweet banget pokoknya mah, seperti di pilem-pilem Korea.

Lupakan pilem Korea..karena pendakian berikutnya saya menjadi strong..kaga ada lagi acara peluk-pelukan dipuncak kecuali foto-foto...ahahhahaha..cmiwwwwww.

Lanjut ke cerita pendakian kali ini,
Singkat kata, sampailah kami dipuncak...bahagiaaaaa bisa menghirup udara dipuncak sedalam-dalamnya...uuuggghhhhhhh tersalurkan sudah rindu pada bau-bau puncak nan menggoda.

Sepuas-puasnya saya dan suami berikan waktu di puncak untuk Ade, Tiara, Don, Dadung, Opi..dan kamipun ngopi-ngopi menikmati suasana nan cerah dipuncak.


Puncak Ciremai 3078 MDPL







Setelah sangat puas diatas puncak, kamipun turun menuju tempat mendirikan tenda.
Sat set sat setttttt....turun mah kita cepet gak seperti waktu naik..kwkw.

Sampai ditenda langsung masak memasak..menu kali ini nasi, nugget, dan bakwan + bumbu pecel.
Setelah selesai makan, kami berniat istirahat sejenak dan berkemas-kemas untuk pulang, namun apa hendak dikata, takdir berkata lain...hujanpun turun, hingga kami memutuskan jika jam 8 malam hujan belum reda mau tidak mau harus berkemas dan pulang.

Ya ya ya...jam 8 belum reda akhirnya acara bongkar tenda dalam keadaan hujan.
Jam 10 malam kami pun memulai perjalanan turun malam hari dalam keadaan masih gerimis.
Lancarkah ??? lancar...tapi telapak kaki saya mulai tersiksa akibat sepatu basah, semakin menderitalah nasib kaki saya berada diatas cetakan kue balok.

Tak lama kemudian.....muncullah sekelebat-sekelebat mulai mengganggu perjalanan ini.
Saya tak pernah peduli dengan kemunculan sekelebat dalam setiap pendakian, selalu banyak berdoa.
Namun......suara Tiara tiba-tiba mengejutkan kami semua, aw aw....dia melihat penampakan yang sempat saya lihat mendekati Tiara.
Tiara ketakutan, saya menenangkan Tiara dengan menyoroti kearah penampakan itu, memberitahu Tiara bahwa penampakannya sudah tidak ada (walau saya merasakan si penampakan masih ada disana..kwkwk).

Karena kejadian itu, saya yang tak mau peduli dengan sekelebat yang muncul akhirnya terus menyoroti dengan senter setiap hal-hal yang mencurigakan kuatir penampakan itu muncul, berharap Tiara bisa berjalan dengan tenang..namun si dia beberapakali muncul kembali membuat Tiara takut.
Helowwwwww penampakan, over acting pisan sih !! sini loe kalo berani, gue bakal ngacirrrrrr !! hiyyyyyy.

Selama perjalanan ini saya sama sekali  tidak melihat bentuknya, namun merasakan sliwar-sliwer disekitaran berwarna putih, ada juga yang hitam besar..tapi tidak tau seperti apa bentuknya. 
Santai saja...selagi banyak orang aku mah kaga takut...ah masaaa ?? takut sih..sedikit.

Setelah perjalanan melelahkan kamipun sampai di Cigowong, yessssss warung buka walau tengah malam, saya laparrrrrrrrrrrr !! 
Dengan segera memesan makanan yang bisa secepat kilat berada dihadapan saya..taraaaaa !!! nasi dan telor ceplok !! (horeeeee..makanan favorit akoh nih coyyyy).
Tak disangka...setelah ceploknya habis ternyata si akoh ini masih lapar juga, tambah satu lagi Pop Me !! 

Sebenarnya udah nyangka sih bakal nambah, secara akoh kan doyan makan dan ngemil, hal inilah yang membuat para wanita tersirik-sirik dan terkagum-kagum pada diriku..makan dan ngemilnya banyak tapi gak gemuk-gemuk sih !! 
Jangan terpana gitu donk !! akoh langsing karena cacingan !! kadang-kadang juga nagaan !! puassss !!! wekkksssss.

Lalu Tiara minta ditemani buang air kecil.
Ketika saya lagi pasang aksi berdiri manjah menanti Tiara..ehhhh Hayati yang satu ini minta pindah tempat dari dekat pohon ke pinggir shelter..baiklah Hayati terserah loe aje ! (sepertinya doi ketakutan melihat sesuatu).

Baiklah..dengan penuh cinta ku menunggu Hayati pipis, namun......eittttsssssss, wowwwww, ugghhhhh, oh tidakkkk, OMG ada dua mata memandang saya dikejauhan, saya sorot dengan senter tapi tak terlihat apa-apa, hanya matanya saja yang terlihat tajam memandang kearah saya..setajam siletttt !! (kalau kurang tajam tolong diasah dulu !!)
Setelah Tiara selesai, dia mengajak tergesa-gesa menuju warung, sedangkan saya masih penasaran dengan mata itu, terus-terusan saya sorot dengan senter , dan mata itu mendekat semakin mendekati kami.

Ternayata Tiara juga melihat apa yang saya lihat.
Terjadilah kerusuhan antara saya dan Tiara, saya masih dengan rasa penasaran sedangkan Tiara semakin tergesa menarik-narik tangan saya, 
- Ayo tante ayooo..
- Iihhhh itu apa ra ??
- Aduhh tanteee..ayooo
- Itu tambah deket !
- Iya iya tau.
- Bla..bla..bla....entahlah sebenarnya saya lupa waktu itu kita ngoceh-ngoceh apa, intinya seperti itulah kira-kira (kira-kira sendiri aja lah gaes)...yang satu keukeuh pengen liat, yang satunya keukeuh narik-narik, terjadilah keributan yang mengarah pada terjadinya perang dunia ?%&$#@.

Sampai diwarung kami langsung duduk cantik seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa..kok bisa gitu ya kita ??!! bisa donk..pemain sinetron gitu loh.

Setelah selesai makan semua, kamipun melanjutkan perjalanan....Bismillah...seperti yang sudah-sudah perjalanan malam dijalur ini agak-agak serem gimanaaaaa gituuuu.
Tapi ya sudahlah..saya agak mengabaikan hal-hal serem karena kaki sudah semakin menyakitkan jiwa raga...huaaaaaaaaa.

Bener nih bisa mengabaikan ??? tentu tidak !!
Saat melewati Kalimati, saya terkejut saat senter menyorot kearah bawah, terlihat jelas ada bekas injakan telapak kaki tapi polos tanpa jari..2x-3x ukuran kaki normal laki-laki.
Berkali-kali saya sorot hingga dekat, dan saya tidak salah liat, itu memang bekas telapak kaki.
Saya sempat berkata pada orang dibelakang (entah Dadung atau Opi), itu liat telapak kaki besar banget !!
Dan setelahnya saya langsung merasa mual, lalu meminta break !!
Setelah itu lanjut lagi perjalanan, mulailah kini kaki-kaki tak bisa diajak kompromi.

Awalnya masih saya tahan-tahan terus, walau sakitnya sudah luar biasa. 
Ujung jari sudah berasa lecet parah dan mengenai kuku...arghhhhh, apakah akan terulang kembali dijalur ini kuku lebam-lebam dan akhirnya sepatu terpaksa dicopot sehingga berjalan dengan kaos kaki saja ???? Ooohhhhhh tentu tidakkk, tidak, dan tidak !! itu yg ada dibenak saya sepanjang perjalanan.

Namun apadaya, dipaksa-paksa malah tambah sengsara, benak sayapun sudah tak bisa diajak kerjasama..sudah ingin nangis rasanya, mau nangis tapi muka suami lagi jutek ganteng karena kakinya pun sedang bermasalah.

Akhirnya diturunan terjal penuh bebatuan saya sudah tak kuasa lagi menahan derita, lepas sepatu deh si gue ini !!! horeeeeee..prokkkk..prokkk..prokkkk..!! Capedehhhhh.

Finally..hanya berjalan dengan menggunakan kaos kaki saja, sejarahpun terulang kembali dijalur Palutungan ooohhhhh Palutungan..kenapa sentimen amat sama jari gue ??!!!
Tau gak sih loe !! jari gue bentuknya sudah aneh !! Lantaran loe sentimen, tambah anehlah penampakan jari gue, lebih aneh dari penampakan yang sliwar-sliwer tadi !! kezelllll !!

So..segala jenis akar, ranting, batu saya terabas saja...kaki kembali strong saat pakai kaos kaki, namun sesekali kembali tersiksa jika ujung jari menabrak akar dan batu..watawwwwww !! (ingin rasanya kembali jadi balita agar bisa nangis-nangis bergulingan ditanah).


Kamipun sampai di Ipukan dengan penampakan sudah seperti orang-orangan sawah..cihuuyyyyy.
Alhamdulillah...secara keseluruhan pendakian ini sangat lancar dan sangat menyenangkan.












Photo by Desi, Nono, Ade, Tiara, Opi, Dadung, Oman



http://adventuresenja.blogspot.co.id/p/contact.html

http://adventuresenja.blogspot.co.id/p/about.html

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Pendakian Gunung Ciremai via Palutungan (Setelah cuti mendaki selama 1 tahun)"

  1. wah seru banget cerita pendakianya mbak, apalagi ada horrornya itu :D, setelah satu tahun cuti ahirnya bisa mendaki lagi pasti seneng banget ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cerita horor selalu seru utk disimak, walau sebenernya sy ga mau mengalami hal itu..kwkw.

      Alhamdulillah..seneng banget nih, badan jadi enak..ga sakit" lagi..hehe.

      Delete
  2. Hebat kakak, hahaha. Akhirnya update blog juga, sudah lama ditunggu-tunggu cerita selanjutnya :D

    ReplyDelete
  3. Wwkkkkkwkkkk ... 😂!
    Maaf kak aku jadi ngakak baca tulisan kak Desi 'rasanya pengin nangis guling-guling' ..., jangan sampai banjir air mata lantainya, ya 😅

    Benar sih ya beaya sekolah jaman sekarang itu tinggi banget, mana kak Desi punya anak 4.

    Cukup lama jarang ngeblog, sekalinya muncul wooouw panjang banget artikelnya.
    Sepertinya energi menulis tertuang semua disini.
    Keren itu, kak 👍!

    ReplyDelete
  4. Sungguh luar biasa semangat berpetualangannya, khususnya dalam mendaki. saya saja sudah pensiun lama, semenjak nafas semakin terasa menua.

    ReplyDelete